Sabtu, 29 Agustus 2015

KOMUNIKASI TEKNOLOGI: Komunikasi Menembus Ruang dan Waktu



Sebelum berbicara panjang ke bawah, saya ingin bertanya, “Sudah pernahkah anda menonton film ‘Her’.?” Jika sudah, apa yang anda pikirkan setelah selesai menontonnya? Apakah anda termasuk salah satu orang yang berfikir, Her adalah film yang aneh? Atau malah anda berfikir, Her adalah film yang membuka pandangan kita untuk melihat dan memahami dunia beberapa tahun ke depan atau berpuluh-puluh tahun ke depan? Seperti apa dunia jika dihadapkan dengan teknologi komunikasi yang menghasilkan komunikasi teknologi (komunikasi melalui teknologi) yang seakan tanpa batas?
Film yang dirilis 18 Desember 2013 silam ini bercerita tentang seorang laki-laki kesepian, Theodore Twombly (Joaquin Phoenix), yang menjalin hubungan dengan operating sistem (OS) yang bernama Samantha (Scarlett Johanson). Film ini bercerita tentang kemajuan teknologi di tahun 2025 mendatang dimana seseorang bisa berkomunikasi bahkan sampai jatuh cinta dengan sebuah aplikasi perangkat lunak yang dijual secara umum. Pada dasarnya, cara berkomunikasi OS1 ( baca: O-S One) hampir seperti manusia pada umumnya tapi tidak terlihat wujudnya. OS1 ini akan selalu terhubung dengan penggunanya melalui gadged yang dia miliki seperti handphone dan computer setelah di-install dan terkoneksi dengan internet. Uniknya lagi, selain bisa diajak untuk mengobrol, OS1 bahkan bisa melihat segala hal yang ada di sekitar pengguna melalui fitur kamera yang terpasang di smartphone.
Saat hubungan face to face (tatap muka) telah digantikan oleh hubungan inter face (antar muka) dengan terminal-terminal teknologis berupa komunikasi, perangkat elektronik memperoleh kehidupan mereka sendiri. Tak bisa dipungkiri, peran seorang teman atau orang-orang terdekat yang biasanya menemani kapanpun dan dimana saja, tergeser dengan kehadian OS (operating system) tersebut. Dan sikap individualis serta apatis akut bisa saja menjalari manusia karena segala sesuatu bisa dilakukan secara mandiri. Lihat saja ketika kita berada di tempat umum pasti sering kita jumpai beberapa orang yang asik dengan gadged-nya ketika duduk santai, berjalan, ataupun ketika berkumpul dengan orang lain. Tentu saja, hubungan semacam ini memungkinkan teknologi dan komunikasi berjalan berdampingan untuk dibentangkan dalam ruang dan waktu.
Menonton film Her, kita seakan dibukakan wajah dunia di masa depan, dimana segala sesuatu bisa terkoneksi dengan internet melalui gadged canggih.  Internet merupakan jaringan yang terkoneksi secara global yang berkomunikasi secara bebas serta kemampuannya untuk bertukar dan berbagi informasi tanpa batas. Kemunculan internet dalam lingkungan hidup sehari-hari, secara dramatis merubah sifat dan ruang lingkup manusia terhadap komunikasi. Kondisi seperti ini tentunya mengharuskan manusia sebagai komunikator sekaligus komunikan untuk tidak gagap teknologi (gaptek). Paling tidak, mata kita tidak selalu tertidur untuk memantau perkembangan teknologi yang tentunya akan semakin bertambah maju dan mutakhir.
Jika melihat fenomena saat ini saja, teknologi sudah banyak menawarkan kemudahan hidup yang benar-benar mudah dengan adanya koneksi internet melalui aplikasi-aplikasi yang bisa di download secara gratis. Dan jika dikalkulasi dalam angka, hampir tak memungkinkan untuk dinyatakan dalam bentuk angka berapa pastinya pengguna dari masing-masing aplikasi tersebut. Misalnya saja aplikasi untuk chatting, ada WhatsApp, Line, BBM (Blackberry Messenger), Messenger dari Facebook, dsb. Kemudian ada juga aplikasi untuk jual-beli, seperti e-buy, olx (yang dulunya tokobagus.com) dan berniaga.com. Pada intinya, apa yang diperlukan manusia pada saat ini bisa dipenuhi melalui aplikasi. Dan ketika kita meng-klik aplikasi yang kita pilih, secara tak sadar kita sedang berkomunikasi dengannya.
Contoh lainnya adalah media sosial, seperti Facebook, path, twitter dan instagram, hampir semua orang memiliki akunnya dan memasang aplikasinya di ponselnya masing-masing. Sebutannya saja media sosial, otomatis fungsinya juga sesuai dengan namanya dan tentunya tidak jauh-jauh dari tujuannya, yaitu bersosial. Definisi dari bersosial juga sama dengan berkomunikasi. Karena lazimnya, komunikasi merupakan proses sosial yang sifatnya asasi/mendasar dan akan selalu dilakukan oleh semua makhluk hidup. Transformasi komunikasi seperti ini semakin menegaskan, bahwa kita benar-benar hidup di era globalisasi teknologi yang melahirkan produk-produk teknologi yang bisa terkoneksikan dengan internet atau cyberspace (dunia maya). Sebagai buktinya adalah munculnya ponsel pintar (smartphone).
Ponsel tipe smartphone, menjadi daya tarik konsumen saat ini. Selain menawarkan aplikasi canggih yang bisa di-download di store aplikasi yang sudah disediakan oleh masing-masing smartphone, smartphone juga merupakan media yang bisa menjelajah ruang dan waktu tanpa batas. Dan saat ini, smartphone adalah teman paling dekat manusia setelah bayangannya yang wajib dibawa kemanapun mereka pergi. Karena manusia mulai sadar akan pentingnya teknologi dan tak bisa jauh-jauh dari teknologi. Dan smartphone memenuhi kebutuhan mereka. Ketika seseorang berkunjung ke suatu tempat yang bagus, secara refleks orang tersebut memotretnya kemudian mengunggah (meng-share) foto tersebut ke akun media sosial miliknya sehingga bisa dilihat oleh siapa saja yang terkoneksi dengan internet. Dengan meng-share gambar, video atau meng-update status di akun media sosial, secara langsung orang tersebut sedang melakukan komunikasi teknologi.
Kenapa disebut dengan komunikasi teknologi? Karena komunikasinya terjalin melalui teknologi. Dimana unsur komunikasi terhubung melalui teknologi smartphone. Sehingga bisa dikatakan, kemajuan teknologi kelak, dimungkinkan bisa menggeser budaya masyarakat dari komunikasi face to face (tatap muka) beralih ke komunikasi modern inter face (antar muka). Seseorang yang berdomisili di Yogyakarta tidak perlu jauh-jauh datang ke tempat saudaranya yang berdomisili di Jakarta hanya untuk mengetahui kabarnya. Cukup melalui telephone atau aplikasi sosmed yang ada di smartphone, orang tersebut bisa menanyakan kabar saudara jauhnya. Dalam artian, teknologi komunikasi menciptakan komunikasi teknologi yang bisa menembus ruang dan waktu. Menjadikan yang jauh semakin dekat, dan yang tak mungkin menjadi mungkin. Karena ini adalah era teknologi.
Seperti yang dikatakan Steven Spielberg dalam buku Pengantar Komunikasi Massa Melek Media dan Budaya, “Teknologi dapat menjadi teman baik kita, tetapi teknologi juga dapat menjadi pihak yang paling menyiksa dalam kehidupan kita. Teknologi dapat merintangi cerita kita, menghalangi kemampuan kita untuk memiliki pemikiran atau mimpi-mimpi membayangkan sesuatu yang indah karena kita terlalu sibuk menggunakan telepon genggam ketika kita berjalan dari kantin untuk kembali ke kantor” (Stanley, 2008:23)
Kalimat tersebut seakan sindiran buat kita dan memang pantas buat kita. Karena terkadang kurang pekanya manusia untuk memahami efek globalisasi ketika teknologi disodorkan kepada meraka, berakibat pada ketergantungan manusia itu sendiri akan teknologi yang berujung pada pola komunikasi yang mereka jalin. Cenderung individualis serta apatis adalah momok yang harus diperbaiki. Karena bagaimanapun juga, komunikasi face to face (tatap muka) jangan sampai diabaikan. Kita harus ingat bahwa dalam berkomunikasi, gesture tubuh dan mimik wajah adalah pendukung dalam berkomunikasi dan kedua hal itu jauh lebih penting dari sekedar stiker atau emoticon lucu yang selalu ditawarkan dan dikembangkan oleh chatting aplication.Boleh-boleh saja kita memanfaatkan teknologi yang ada, tapi gunakanlah teknologi sesuai tepat guna sehingga tidak salah kaprah. Berhati-hati dalam menyikapi dan mengambil setiap manfaat yang diberikan teknologi pada kita. Jika hal tersebut sampai terjadi (face to face beralih ke inter face), maka bentuk masyarakat seperti apa yang kelak muncul sebagai hasil dari gerak perubahan ini? Jawabannya, bentuk masyarakat yang tidak lagi mengenal istilah berjabat tangan.