KIDUNG CINTA



Lantunan ayat suci al-Quran masih samar-samar terdengar di telingaku. Suara merdu yang lebih indah dan syahdu dari irama musik manapun, yang selalu mengiringi deru nafas kehidupanku, dan yang selalu memberikan ketenangan batin padaku ketika permasalahan hidup yang pelik ini kadang menerpaku, belum juga berhenti saat aku merapat mendekat kepada sosok paro baya yang masih mengenakan mukena putih itu. Seakan beliau telah terhanyut ke dalam romantisme ayat suci Allah. Aku duduk menunggu di belakangnya. Aku biarkan beliau melepas rindu pada sang Khaliq. Barangkali aku yang salah waktu menemuinya.

Jam di dinding langgar[1] sudah menunjukkan pukul 06.20 WIB, suara kokok ayam juga sudah sejam lebih tak kudengar lagi. Orang-orang yang ada di langgar juga sudah pada pulang. Hanya tinggal kita berdua yang masih di dalam langgar ini.

Aku hampir saja beranjak dari tempat dudukku lantaran kantuk yang sudah tak bisa lagi kutahan membujukku untuk segera meninggalkan langgar. Tapi suara mushaf al-Quran yang ditutup dan diletakkan di meja kecil di depan beliau, langsung mengurungkan niatku. Dan dengan segera kantuk jahanam itupun sirna dari mataku.

“Belum juga siap-siap kamu, Lim?”, tanyanya.

Pertanyaan itu membuatku terdiam di tempatku. Mematung tak bisa bergerak. Seketika, permintaan semalam bergelayut diingatanku. Permintaan untuk menggantikan beliau mengajar siswa putri di Madrasah Aliyah Darul Huda. Anak yayasan Darul Huda peninggalan almarhum Abah.

“Belum, Umi,” jawabku singkat.

“Segeralah bersiap-siap. Sebentar lagi sekolah akan masuk.”

“Aku belum siap, Umi. Belum pernah mengajar seperti ini,” belaku. Umi sebenarnya sudahlah tau kalau aku tidak suka mengajar di tempat formal. Umi juga faham betul kalau aku jauh lebih tertarik dengan forum diskusi santai yang kubentuk bersama teman-teman santri putra di pondok jika aku pulang lantaran libur kuliah. Alih-alih disuruh mengajar kitab ta’lim muta’alim dengan menggunakan makna pegon, selama kuliah empat tahun di Bandung saja aku sudah tidak pernah memegang kitab tipis itu lagi. “Umi, biarkan Cak Wahid saja yang mengajar menggantikan Umi. Cak Wahid pasti jauh lebih pandai dan pasti murid-murid Umi faham dengan penyampaiannya. Aku bilangin ke Cak Wahid ya, Mi...?”

Umi menghela nafas panjang, melepas mukenanya dan melipat sekenanya. Aku melihat raut muka Umi yang sedikit marah. Sebagai anak terakhir, sifat manjaku masih susah sekali kuhilangkan. Mauku, apa yang kusenangi itu yang akan kulakukan. Semasa Abah masih hidup, akulah satu-satunya anak Abah yang tak mau diatur-atur seperti anak-anak Abah yang lain. Cak wahid, orangnya patuh sekali dengan Abah. Setiap kali Abah dawuh[2], cak Wahid selalu menyanggupi meski kadang diluar kemampuannya. Bahkan ketika dijodohkan dengan istrinya sekarang – neng Bibah putri teman dekat Abah, cak Wahid mau-mau saja. Begitu juga neng Isna, kakak perempuanku, yang mau-maunya dinikahkan setelah tamat Aliyah dengan anak teman Abah juga. Entah siapa nama kakak baruku itu, namanya susah sekali kuingat... Setelah cak Wahid dan neng Isna menikah, maka tanggung jawab mereka hanya tertuju padaku seorang. Tapi sebelum aturan-aturan itu menuju padaku, aku sudah mengantongi peluit pembelaan – tepatnya peluit idealisme untuk menentukan jalan hidupku sendiri dan kelak jadi apa aku nantinya.

“Aku panggil cak Wahid ya, Mi...,” rajukku pada Umi yang berjalan di depanku. Aku mengikuti Umi tapi aku juga kewalahan menyejajarinya.

“Nggak perlu. Umi pengen ngelihat kamu ngajar dan ngamalin ilmumu di pesantren yang bakal kamu pimpin kelak.”

Hah?! Mimpin pesantren? Apa aku tak salah dengar?

“Mimpin pesantren, Mi?!”

Umi mengangguk.

“Nggak ah, Mi. Serahin ke cak Wahid saja, Mi. Pasti dia bisa diandalkan.”

“Enggak. Sekali enggak, tetap enggak. Umi pengennya kamu, le[3]. Umi pengen ngeliat seperti apa ilmu yang kamu dapat selama kuliah. Kapan kamu lulusnya? Sebentar lagi to? Kalau sudah wisuda, langsung balek ke rumah dan ngurus pesantren. Diiling-iling to le wasiate Abah kae piye[4]...

Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Umi selalu tau kelemahanku. Wasiat Abah.

%%%%%

Bel istirahat berbunyi. Pemilik wajah-wajah layu nan lesu dengan perut keroncongan berhamburan seperti anak TK, menyerbu penjual bakso dan mie ayam di sudut halaman sekolah. Suara-suara tawa nyaring dan gosipan tak jelas, mulai konser di mana-mana. Trotoar depan kelas pun menjadi ajang ngerumpi kumpul bareng geng masing-masing. Ckckckck... Ckckck... calon-calon ibu dari putri-putri bangsa kok kayak gini.

“Ustadz Salim..!”

Tiba-tiba dari arah belakang ada suara perempuan yang memanggilku. Reflek aku berhenti dan menoleh ke belakang. Dua sosok perempuan remaja berjalan setengah berlari menghampiriku. Aku merapat ke tembok agar orang-orang yang lewat tak terhalang olehku. Dua perempuan remaja itu tersenyum sopan ke arahku. Ternyata mereka mengamalkan pelajaran ta’lim muta’alim mengenai adab menghadapi ustadz-nya atau yang lebih tua dari mereka. Aku membalas senyuman mereka. Bukan bermaksud apa-apa, karna senyum ini hanya sebatas antara ustadz dan santrinya. Pengajar dengan muridnya. Ya, barangkali lebih tepat menggunakan kalimat pengajar dengan muridnya daripada ustadz dengan santrinya. Lebih nasionalis bukan mengarah ke islamis.

“Assalamu’alaikum, Ustadz... Apa ustadz Salim ada waktu sebentar?” tanya perempuan yang memakai kacamata. Selintas aku memandangi kacamatanya. Dalam benakku aku berfikir, kacamata yang dia pakai kacamata minus atau hanya fantasi buat gaya-gaya-an saja? Sekarang kan memang lagi trend pakai kacamata. Orang yang minus atau silinder beneran saja males pakai kacamata, yang nggak malah getol banget pengen pakai kacamata. Oh ya, tadi dia sedang menanyaiku... Astaghfirullah....

“Ada,” jawabku dengan nada dan ekspresi sedikit kaku layaknya orang penting agar tampak berwibawa di depan orang yang lebih kecil dariku. Dan ini tips dariku. Jika ingin orang lain – apalagi orang yang belum dikenal– sedikit sungkan dengan kita sejak pandangan pertama, cobalah untuk lebih terlihat cerdas di matanya. Meskipun IQ pas-pasan.

“Begini Ustadz... besok tanggal 25 Maret, OSIS akan mengadakan diskusi panel dengan tema Menyongsong Generasi Muda Menjadi Generasi Yang Berdedikasi. Dan tadi, proposal sudah kami ajukan ke kepala sekolah. Tapi setelah diteliti oleh ustadz Wahid, beliau menyarankan ustadz Salim yang menjadi pembicaranya.”

“Saya?!” aku setengah kaget mendengar aku direkomendasikan oleh cak Wahid untuk menjadi pembicara di sekolah. “Apa sudah tidak ada alternatif ustadz lain selain saya?”

“Sebenarnya ada ustadz, tapi ustadz Wahid dan Bu Nyai menyarankan usadz Salim yang menjadi pembicaranya.”

Mataku memandang dua sosok perempuan berjilbab putih ini bergantian. Yang memakai kacamata aktif sekali ngomong, dan yang tidak berkacamata mengekor di belakangnya.

“Akan saya pertimbangkan dulu.”

Barangkali ini lebih adil bagiku. Toh tanggal 25 Maret itu masih setengah bulan lagi.

%%%%%

“Mi, kenapa harus aku yang menjadi narasumbernya?”

Aku menghampiri Umi yang sedang membaca buku di beranda rumah. Sore-sore begini Umi paling gemar membaca buku di teras depan, sambil melihat santri-santrinya yang selesai belajar di madrasah masuk ke penjara suci, pesantren. Umi menolehku sekilas dan kemudian asyik dengan bacaannya lagi. Kududukkan tubuhku di kursi sebelah Umi. Memandangi ibu paling baik sedunia yang tak bergeming dari bukunya.

“Aku tidak bisa lama-lama di sini, Mi. Minggu depan harus sudah balik ke Bandung. Ada pertemuan dengan pembantu risetku yang mengharuskanku kembali lebih cepat.”

Umi tetap tak bergeming meninggalkan pandangannya dari buku yang dibacanya. Aku menatap lurus dan lekat-lekat ke mata Umi. Berharap Umi mau menoleh dan menanggapi aduanku.

“Tak bisakah kamu tunda acaramu untuk Umi, Lim?”

Aku tersentak dengan omongan Umi barusan. Nada bicaranya datar, tapi kalimatnya seakan menusuk kalbuku. Seketika aku tak berani membalas kalimatnya. Aku hanya bisa mendongak memandang langit senja yang tertutup nyiuran daun kelapa di halaman.

Masih terngiang di telingaku akan permintaan almarhum Abah sebelum beliau meninggal. Waktu itu beliau memintaku pulang, tapi keinginannya tak jua kupenuhi hingga dua bulan berselang. Tepat ketika aku dikabari cak Wahid dan neng Isna kalau Abah masuk rumah sakit, aku langsung memesan tiket pesawat yang berangkat hari itu juga. Dan kini? Haruskah aku mengulang dosa itu untuk ibuku? Pantaskah? Orang yang telah mengandung dan melahirkan aku akan aku sakiti hatinya.

Ibu, durhakalah aku

Jika dalam diriku tak kau temui inginmu

Ibu, durhakalah aku

Jika dalam hidupku tak aku temui legamu

...[5]

%%%%%

Seusai mengimami sholat berjamaah di langgar pondok, cak Wahid mengajakku ngobrol di kantor sekretariat pondok. Aku mengangguk menyetujuinya. Sudah lama aku tak mengobrol sedekat ini dengan cak Wahid. Sesampainya di dalam kantor, mataku menyisir ruangan yang penuh dengan rak-rak buku dan puluhan piala yang tertata rapi di tempatnya. Ternyata, lima belas tahun kutinggal merantau mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren yang lain hingga ke bangku kuliah, pesantren ini banyak mengalami kemajuan. Bangunannya sudah termasuk megah dibanding dengan bangunan-bangunan pesantren pada umumnya yang kadang sederhana.

“Duduk, Lim,” kata cak Wahid yang mungkin heran memandangiku tak langsung duduk sejak masuk ruangan tadi. Aku mengangguk menjawab perintah cak Wahid. Aku menggeser kursi yang ada di depan cak Wahid. “Lama sekali kita tidak ngobrol seperti ini.” Cak Wahid memulai mencairkan suasana yang sedikit canggung kurasakan.

“Iya,” jawabku singkat.

“Bagaimana kuliahmu di Bandung?”

“Alhamdulillah Cak lancar.”

“Sudah semester berapa kamu sekarang?”

“Semester sembilan. Melenceng memang dari yang aku perkirakan dulu. Waktu banyak tersita di lapangan buat riset TA.”

Cak Wahid menghela nafas panjang. Aku memandang cak wahid. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga dan sebentar lagi beralih ke kepala empat, cak Wahid sudah seperti sosok Abah di keluarga ini. Karena dia anak yang paling tua, otomatis dia dituakan dan menjadi pengganti Abah sekaligus pengambil keputusan mengenai tindakan yang harus keluarga ambil jika dihadapkan pada pilihan hidup.

“Itulah hidup, Lim. Kadang apa yang direncanakan di awal, meleset di akhir.”

Aku terseyum. Dan masih menunduk.

“Mungkin kamu sudah punya firasat kenapa kakakmu ini mengajakmu ngobrol di sini?,” tanya cak Wahid. Aku mengerutkan kening. Jujur. Aku tak mempunyai firasat apa-apa saat ini, selain kecanggungan. Dan aku pun menggeleng.

“Tak ada orang tua di dunia ini yang mengharapkan bahkan sampai tega mendoakan anaknya sengsara atau tak bahagia. Hanya orang tua bodoh dan tak tau rasa syukur kepada Tuhannya lah yang sampai tega berbuat seperti itu. Begitu juga dengan ibu kita, Lim. Umi tak akan tega membiarkan anaknya jauh dari kebahagiaan.”

Aku masih mendengarkan cak Wahid sambil menerka dan menafsir. Mengarah kemanakah omongannya barusan?

“Kira-kira apa yang bisa membuatmu bahagia di dunia ini, Lim?”

Aku terdiam sejenak. Berfikir.

“Barangkali cinta,” jawabku.

“Cinta yang seperti apa?” tanya cak Wahid lagi.

Seperti cinta yang tengah kurasakan untuk Hamida...

“Bicara masalah cinta adalah bermain dengan kata. Cinta tak akan dimengerti jika tak ada kata yang keluar dari mulut. Tapi terkadang, jika seorang hamba sudah terselimuti oleh cinta dan dada terasa ada yang bergemuruh, kata itu tak bisa keluar dari mulut,” ujar cak Wahid kemudian.

Apa maksudnya ini? Kenapa cak Wahid ngomong nglantur kayak gini? Apa cak Wahid sudah tau perihal hubunganku dengan Hamida?

Suasana seakan tak bersahabat lagi setelah omongan cak Wahid barusan yang tak bisa kufahami. Entah kalimatnya yang berat, ataukah memang otakku yang masih dangkal pemahamannya.

“Umi memberimu nama Salim karena Umi ingin kamu menjadi orang yang selamat dunia dan akhirat. Umi mencurahkan perhatian lebih kepadamu dari pada anak-anak Umi yang lain, karena Umi takut. Takut belum bisa menyempurnakan kebahagiaanmu ketika sudah menghadap kepada Sang Khaliq.”

Ya. Umi pernah berkata seperti itu padaku ketika aku masih duduk di bangku Ibtidaiyyah. Karena Umi melahirkan aku di saat usianya sudah tak produktif untuk mempunyai anak lagi. 34 tahun. Dan parahnya lagi, dokter yang memantau kandungan Umi mengabarkan kalau jantungku lemah dan harus segera diagkat saat usiaku belum genap tujuh bulan. Kata Umi, Umi sangat takut jika anak yang dikandungnya meninggal. Dan Abah, akan merasa sangat kehilangan Umi. Karena itulah, Umi dan Abah memberiku nama Salim sebagai bukti anak yang selamat. Dan lagi-lagi, akulah anak Abah dan Umi yang paling mereka sayangi, dan mereka selalu menuruti apa mauku. Tanpa ada rasa peduliku pada dua saudaraku yang lain. Cak Wahid dan neng Isna.

 “Intinya Lim, Umi ingin melihatmu bahagia dengan menikahi Fatma.” Cak Wahid membenahi posisi duduknya dan menatap lurus ke arahku.

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Hatiku terasa ditusuk oleh keluargaku sendiri dengan belati runcing. Dan kepalaku terasa berat dengan beribu-ribu bintang menari mengelilingiku. Aku tak bisa berkata-kata lagi.

“Bagaimana, Lim?,” tanya cak Wahid yang seakan ingin memojokkanku.

“Pernikahan bagiku bukanlah permainan, cak. Dan tak bisa ditentukan hanya dengan sekali anggukan kepala.”

“Apa pernah Umi memintamu menuruti inginnya selama ini? Bukankah selama ini apa yang kamu mau selalu Umi berikan? Kurang baik apanya Umi, Lim?” Aku semakin terpojok dengan omongan cak Wahid yang membawa-bawa nama Umi. “Toh cinta itu akan bisa datang dengan sendirinya. Lagipula, orang yang sudah menikah bukan cinta lagi yang mereka cari. Tapi kasih sayang untuk bisa menuju keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah yang diridhoi Allah.”

“Tapi seorang laki-laki mempunyai hak untuk memilih pasangannya sendiri. Bukankah begitu yang diajarkan di kitab-kitab, Cak?”

Pandangan cak Wahid kini semakin lurus ke arahku. Dan kini dua mata garang miliknya beradu dengan dua mata teduh milikku. Aku menang!

%%%%%

Dan hari itupun tiba. Hari dimana aku didapuk oleh Umi dan cak Wahid untuk menjadi narasumber. Sebenarnya bukan acara ini yang membuatku berdebar, tapi sosok perempuan yang tempo hari dibicarakan oleh cak Wahid yang akan menjadi pendampingku kelak. Ya Allah, ini sungguh diluar dugaanku. Apa yang harus aku lakukan, ya Allah?

Menikah adalah jalan ibadah menuju surga-Mu. Tapi kenapa niat yang seharusnya putih itu menjadi abu-abu seakan tak tulus dari hati ini. Apakah karena ada cinta Hamida yang masih bersemayam di hatiku? Astaghfirullahal’adzim...

Acara akan dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Para peserta seminar sudah memadati aula sejak sejam yang lalu. Dari ruang tunggu aula yang sudah disediakan panitia aku mengamati orang-orang yang lalu-lalang masuk dan keluar dari ruangan ini. Tujuanku hanya satu, mencari sosok Fatma. Semalam neng Isna memberiku foto Fatma. Dari fotonya, orangnya kalem, cantik, dan kulitnya putih. Hampir samalah dengan Hamida. Bedanya, Hamida dari kalangan keluarga biasa. Tidak ada trah darah seorang kyai di tubuhnya. Kalau Fatma, sejauh yang sudah aku dengar dari cerita cak Wahid dan neng Isna, dia masih keturunan kyai Abbas, pengasuh pondok pesantren Ummul Quran Banyuwangi.

Lembar demi lembar novel Bumi Manusia karangan Pramodya yang sengaja kubawa sudah kubaca. Dan waktu seolah bergulir sangat lamban. Samar-samar dari salah seorang panitia, aku mendengar kalau pembicara yang namanya Zahra Fatma akan agak telat datangnya. Dari hasil nguping yang kalau tak salah dengar, beliau kejebak macet gara-gara ada kecelakaan.  Dan acara seminarpun diundur setengah jam lagi. Ya Allah, hati ini tidak karuan.

Monggo diminum dulu unju’anipun, Ustadz[6],” kata salah seorang panitia yang tadi menjemputku dari rumah. Barangkali dia merasa tak enak karena membuatku menunggu hampir satu setengah jam.

“ Iya. Trimakasih. Nanti kalau saya haus akan saya minum,” jawabku. Keringat dingin dan jantung berdebar-debar, tiba-tiba menggerayangiku. Entah pertanda apa ini. Barangkali inilah pertanda grogi karena akan berjumpa dengan Fatma. Selintas wajah cantik Hamida lewat di fikiranku. Aku tak boleh menduakan dan menyakiti hati Hamida.

Suara cek soundsistem  berdenging nyaring mengagetkanku. Terlebih saat sosok perempuan berjilbab merah memasuki ruangan tunggu aula dengan sunggingan senyumnya yang manis. Senyumnya membuat jantung ini berdesir. Aliran darah dari kaki mengalir cepat ke otak. Hanya hitungan detik. Ya, hanya hitungan detik pemilik senyum itu sudah duduk di depanku.

“Tadi di jalanan macet ya neng Fatma? Katanya ada kecelakaan? neng Fatma tidak apa-apa kan?” berondong salah seorang panitia yang setelah kuingat-ingat adalah perempuan yang dulu menawariku untuk menjadi panelis tempo dulu.

Perempuan bernama Fatma itupun tersenyum mendengarnya. “Ndak Ros... alhamdulillah aku baik-baik saja. Tabrakannya itu selang dua mobil dari mobil yang kutumpangi. Untung saja aku bawa mobil. Coba kalau tadi aku pakai motor, mungkin juga bisa terjadi padaku.”

“Kok bisa begitu, neng?”

“Soalnya para pengendara motor yang gampang nyalip-nyalipnya. Kecelakaan tadi juga karena pengendaranya asal nyalip saat ada celah jalan yang kosong.” Tutur Fatma.

Melihat ekspresinya bercerita, mataku benar-benar tak bisa lepas dari wajahnya. Makhluk Allah yang bernama perempuan itu memang benar-benar ada untuk menggoda laki-laki. Iseng-iseng aku membuka biografinya yang ada di lembar terakhir print out materinya yang dikasih panitia padaku beberapa hari yang lalu. Nama lengkapnya Zahra Fatma. Lahir di Banyuwangi 23 April 1990. Kuliah di Fakultas Hukum UNISULA pada tahun 2009 dan lulus pada tahun 2012 sebagai lulusan terbaik dan tercepat. Sekarang bekerja di LSM Bina Muda Banyuwangi yang konsen pada pembekalan di tingkat SMA/MA se-Jawa. Setelah membaca sekilas biografinya akupun hanya bisa tersenyum sambil menyeruput segelas teh yang disiapkan oleh panitia di depannku. Dan... Aih!!! Panas.

%%%%%

Dua bulan berselang...

Bandung masih sama seperti hari-hari biasanya. Pelancong, belanja, perempuan, makanan, hiburan malam, dan... kesenangan. Semua itu bisa didapatkan di kota Partij Van Java ini. Kesenangan berbeda inilah yang kadang membuatku rindu untuk bermesraan dengan cumbuan angin malamnya. Hmm... benar-benar suasana yang sangat berbeda 1800 dari kampung halamanku. Meski tidak berada di pelosok pedesaan, dan hanya kecamatan, tapi desaku sangatlah jauh dari hal kesenangan duniawi.

“Tumben-tumbenan kamu mengajakku makan malam di luar?”

Suara inilah yang membuatku rindu untuk sesegera mungkin kembali kesini. Ke Bandung. Kota dimana cintaku terpaut.

Kadang aku masih bingung antara cinta dan sayang. Meski sebenarnya aku memiliki pandangan yang jelas– menurutku – mengenai dua kata itu. Bagiku, cinta adalah manifestasi dari nafsu. Yang mana nafsu seringkali dikonotasikan dengan sosok Syaitan. Sedangkan sayang adalah puncak dari rasa cinta kasih yang berujung pada kasih Illahi. Apakah rasaku ini salah? Apakah salah jika aku mencintai Hamida? Ya, barangkali ini sekedar cinta. Sekedar godaan dari syaitan untuk sejenak berpaling dari-Nya. Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinika.

“Ada apa, sih?”

Hamida memandangku heran melihatku tak berkedip melihatnya. Aku hanya tersenyum memandang gurat halus di keningnya yang mulus. Semakin dia penasaran, akan semakin bungah bahagiaku. Dan bahagia itu akan semakin melambung lagi kalau bibir tipisnya itu cemberut menahan sebal.

Nggak ada apa-apa. Tak ada salahnya kan, berbagi kebahagiaan setelah risetku selesai dengan mentraktirmu makan malam?” balasku sebelum bibirnya bertambah maju beberapa senti karna kugoda.

“Ya... nggak biasanya aja, seorang Salim Alfian mengajak makan seorang perempuan yang... bukan... mahramnya.” Dua kata di akhir itu seolah lucu diucapkan olehnya.

Aku memang berasal dari keluarga pesantren, dan anak dari seorang kyai yang tersohor di daerahku. Tapi aku tak munafik jika harus berhadapan dengan jamaliyah makhluk Tuhan yang bernama perempuan. Dimana-mana sosok perempuan adalah perhiasan kehidupan. Alangkah munafik jika ada laki-laki yang mati rasa jika dihadapkan dengan perempuan. Karena aku yakin, laki-laki tak akan tahan dengan godaan yang satu ini.

Hamida... Hamida .... O, Hamida.

Berawal dari rasa simpatiku padamu, kedekatan ini terjalin.

Hamida... Hamida.... O, Hamida.

Berawal dari pertanyaan ringan seputar fikih yang kau tanyakan padaku, komunikasi intens kita terajut.

Hamida... Hamida.... O, Hamida.

Aku tak tega jika harus meninggalkanmu, sebelum menuangkan manisnya sari madu Islam padamu.

Hamida... Hamida.... O, Hamida.

Biarlah hanya aku, Tuhanku dan Tuhanmu yang tau isi dari niat hati ini.

“Hahaha..... ini sarana buat diskusi kita.” Jawabku pendek.

%%%%%

Beberapa hari ini, Umi dan kakak-kakakku selalu menghubungiku. Melihat nama-nama itu tercantum jelas di layar HP-ku, aku semakin malas untuk meliriknya. Bahkan terkadang aku sengaja berangkat ke tempat penelitian dan ke kampus tidak membawa HP. Benda yang satu itu, benar-benar membuatku pusing. Dan urusan perempuan, jauh membuatku lebih pusing lagi. Semuanya hanya bermuara di satu titik. Perempuan.

Siang ini aku berencana untuk menemui Hamida. Entah ucapan apa yang keluar nanti, aku pasrah kepada Sang Pemberi Hidup. Matahari merongrong siang untuk mengeluarkan panasnya dengan ditambah panas polusi dari kendaraan.

Tepat di gerbang gedung tempat biasa Hamida mengajar les, Hamida muncul diantara segerombolan anak-anak remaja. Warna merah dari jilbabnya terlihat mencolok di tengah terik matahari yang mulai memanggang ubun-ubun. Dan tanpa aku berteriak memanggil namanya, Hamida sudah mengetahui keberadaanku. Hanya perlu sekian detik bagi dia untuk menghampiriku.

Tanpa ba-bi-bu kaki kita berjalan ke arah halte yang berada tepat di ujung gang masuk tempat ngajar Hamida. Rencanaku, aku akan mengajak Hamida ke tempat dimana pertama kali kita dipertemukan oleh Sang Kuasa. Warung bakso dekat toko buku langganan kita. Dan butuh waktu 15 menit bus ini sampai di depan toko buku itu. Dan sepanjang perjalanan, hanya diam yanga menyelimuti kebersamaan kita.

Keanehan selama perjalanan mulai dipertanyakan oleh Hamida setelah kita sampai di warung bakso. Dan aku seakan tak punya waktu lagi untuk menunda terus-terusan. Semakin aku menunda, semakin banyak permasalahan yang akan aku emban. Kata demi kata, kalimat demi kalimat mengalir dari mulutku. Mulai permasalahan pesantren, wasiat Abah, hingga perjodohan yang seakan menjadi bumerang untukku kepada Hamida. Dan ternyata dugaanku tepat. Hamida menitikkan air mata saat aku mengakhiri cerita perjodohanku.

Malam ini, seakan menjadi malam pekat untuk kami berdua meski bintang di langit dengan jelas membentuk rasi mereka masing-masing. Tapi di Bumi, di tempat kami berpijak, rasi kita tak sempurna lagi. Dan sebelum kami berpisah, Hamida mengucapkan salam perpisahan yang membuat hati ini merasa bersalah.

“ Pilihlah yang terbaik buatmu, Lim. Bukankah dalam al-Quran diajarkan, perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik? Begitupun sebaliknya, bukan?”

Dan butiran bening itu masih terus mengalir melewati dua pipinya. Menetes ke pusaran bumi. Merontokkan segala sedih hati yang harus kulukai di tempat awal kebahagiaan kita bersemi.

Maafkan aku Hamida...

%%%%%

“Apa ada yang masih kamu ragukan, Lim?” tanya Umi beberapa hari yang lalu ketika menelfonku. “Apa lagi yang ingin kamu tanyakan mengenai Fatma?”

Aku sejenak terdiam mendengar pertanyaan Umi. Seharusnya tak ada lagi yang ingin aku tanyakan ke Umi perihal Fatma. Cak Wahid, Neng Isna, dan Umi sudah bercerita banyak tentang Fatma. Tentang kepribadian dia, pekerjaan dia, dan semua yang menyangkut tentang dia. Aku sudah tahu. Yang aku tidak tahu hanyalah hati dan perasaanku sendiri. Pintu hati ini belum sepenuhnya terbuka lebar. Jangankan selebar rentangan tangan, celah untuk mengintippun tidak ada. Ini yang jadi persoalanku dan ketakutanku selama ini.





%%%%%

“ Ya Salim Alfian bin Ahmad Baihaqi, ankahtuka wa zawwajtuka ibnatii Zahra Fatma binti Abdullah Abbas bi mahri surotul yaasiin wa arrohman naqdan!”

“ Qobiltu nikahaha wa tazwiijahaa bi mahri madzkuurin naqdan!”

Di dalam masjid dalem ini, disaksikan beribu-ribu pasang mata, kalimat ijab-qabul itupun lancar kulafalkan. Sesungging senyum manis pun terpacar dari bibir Zahra Fatma. Dan aku tak tahu dan tak akan mengerti, apa yang terjadi di kota Bandung sana. Apakah perempuan itu juga tersenyum seperti yang dilakukan istriku sekarang?

Ya Allah, barangkali ini jalan-Mu yang terbaik untukku. Demi Ridho Umi, aku siap menikahi Fatma. Fatma adalah wasilahku, dan Engkau adalah ghoyah-ku. Ridho Umi adalah ridho-Mu.

Ya. Zahra Fatma adalah istriku.. istri yang tidak mempermasalahkan dunia yang kupunya. Karena dunia itu telah kudapat dengan hafalan surat Yasin dan Ar-rahman, atas permintaan pribadinya.

Wahai Hamida, perempuan jelita karunia Ilahi

Usahlah kau tangisi, bahagialah engkau di sana

Kidung cinta ini, cukuplah sampai di sini.



-     The End -




[1] Musholla.
[2] Berucap, berkata.
[3] Panggilan untuk anak laki-laki.
[4] “Diingat-ingat Nak... wasiat Abah dulu gimana.”
[5] Puisi berjudul Ibu, karya Fatin Hamama
[6] “Silahkan diminum dulu minumannya, Ustadz.”