Selasa, 04 Agustus 2015

KASLAN



Namanya Kaslan. Aku biasa memanggilnya pak Kaslan. Aku mulai mengenal pak Kaslan ketika ayahku menyuruhnya untuk membersihkan pekarangan rumah yang mulai kotor dan ditumbuhi ilalang liar. Dia begitu sederhana. Memakai celana panjang, baju kemeja panjang dan topi, yang semuanya berwarna gelap. Hampir saja warna pakaian yang dia pakai menyamai kulit tubuhnya yang gelap. Dan satu lagi, di sampingnya ada sebuah cangkul yang berdiri condong membelakanginya.
Pertama kali melihat pak Kaslan, kata yang aku lontarkan pada ayahku adalah, “Yah, kasian dia...” Ayah tersenyum mendengarnya dan memilih tidak menjawab pernyataanku. Pagi itu aku dibuat miris oleh Ayah. Kau ingin tahu kenapa aku tak tega melihatnya?
Namanya Kaslan. Umurnya kira-kira lebih tua dari ayahku, kurang lebih 50 tahunan. Aku menebak dia dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana semasanya. Rumahnya ada diantara pepohonan hutan dan pas sebelah lapangan tempat biasa teman-teman sebayaku bermain sepak bola. Ketika aku mengetahui kalau namanya Kaslan, aku langsung teringat pada buku pelajaran Bahasa Arabku. “Kenapa namanya Kaslan, Ayah? Bukankah Kaslan itu artinya bodoh?” Itu pertanyaan yang sontak kubisikkan ke telinga ayah begitu ayah mengenalkan namanya padaku. Lagi-lagi ayah hanya memilih diam. Dan aku juga mengikuti kediamannya.
Oh iya, bukankah tadi aku bilang akan memberitahumu kenapa aku kasihan melihatnya? Akan aku beri tahu sekarang. Pak Kaslan memiliki tangan kiri yang lebih pendek dari tangan kanannya. Itu yang membuatku tak tega melihatnya. Aku tahu di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Ustadz Hamid, guru pelajaran agamaku di sekolah, pernah mengatakan itu ketika kami, aku dan teman sekelasku, setelah menonton film Hafalan Sholat Delisa di sekolah.
Kau tau? Hari itu aku dibuat terpaku, takjub melihat kejadian indah itu. Pak Kaslan ternyata lihai sekali memainkan cangkulnya. Dan gerakannya sangat gesit. Menggaruk beberapa kerikil dan sisa material bangunan bekas renovasi musholla di sebelah rumahku, hanya dengan sekali garukan. Melihat kejadian itu seakan tak terjadi apa-apa dengan pak Kaslan. Dia terlihat seperti manusia normal lainnya. Kedua tangannya bisa memegang badan cangkul seperti yang biasa orang normal lakukan. Itu belas kasihanku yang pertama. Yang kedua, ketika pak Kaslan berjalan mengambil air minum yang ada di bawah pohon Kersen, tempat aku bermain saat itu, ternyata kakinya juga tak normal. Jalannya sedikit pincang meski kalau berdiri keduanya bisa tegak
Sungguh. Terkadang aku sebal dengan rasa belas kasihanku yang bisa kukatakan terlalu. Sering aku dibuatnya tak tega dan mau tak mau harus berbuat untuk menghilangkan rasa belas kasihan itu dengan melakukan sesuatu untuk orang tersebut. Atau kalau aku tak tau harus berbuat apa untuknya, aku memilih memalingkan muka. Bukan maksud untuk acuh, hanya saja aku ingin hatiku tak sedih kalau melihatnya.
Melihat kedua kejadian itu, aku langsung berlari ke ayahku yang sedang duduk santai di depan TV karena hari ini hari Minggu. Hari libur nasional Indonesia. Kira-kira seperti itu. Begitu juga dengan aku, kak Zafran dan kak Zuhruf.
“Ayah... kenapa nyuruh pak Kaslan bersihin pekarangan?” tanyaku sebal. Dari intonasi pertanyaanku ayah pastilah tahu anak perempuannya yang berumur empat belas tahun ini sedang melakukan protes belas kasihan.
“Memangnya kenapa?” tanya ayah balas menanyaiku.
“Kasihan pak Kaslan, ayah...”
Dan lagi-lagi ayah tersenyum.
“Ayah...” rengekku lagi. Ayah tetap tidak bergeming dan tetap menatap layar TV yang sedang menayangkan pertandingan tinju antara Pakiyo dan Rois. “Ayah! Tangan dan kaki pak Kaslan cacat. Kenapa tidak cari orang lain yang normal saja sih, yah?”
Kali ini ayah menoleh dan menatapku.
“Jangan anggap remeh mereka yang fisiknya tidak sesempurna kita. Belum tentu hasil yang mereka lakukan juga kurang baik seperti fisiknya. Seperti halnya pak Kaslan. Meski tangan dan kakinya cacat tapi hasil setiap pekerjaan yang dijalaninya selalu memuaskan orang yang menyuruhnya. Lihat saja nanti, pekarangan itu akan bersih dan sedap dipandang mata.”
Aku diam mendengar penjelasan ayahku. Aku bukannya menghina atau menganggap remeh orang-orang seperti itu. Hanya saja aku kasihan padanya. Kenapa ayah tidak memilih orang yang normal fisiknya untuk dipekerjakan membersihkan pekarangan yang cukup luas itu.
***
Seusai sholat dhuhur aku masih melihat pak Kaslan membersihkan pekarangan kami. Lebih tepatnya membersihkan, menata, mencabuti dan menanam kembali jika ada tanaman yang tumbang karena diinjak binatang atau teman sepermainanku yang kadang aku ajak main di pekarangan itu. Setiap gerakan cangkul yang dia ayunkan seperti menunjukkan betapa sabar dan besar sekali hatinya. Ketika aku mengintip dari balik pintu samping, sebagian pekarangan yang tadinya kotor dengan dedaunan gugur yang berhamburan dimana-mana, kini sudah dibersihkan leh pak Kaslan. Aku makin takjub padanya. Perkarangan kami sangat bersih dan sekarang terlihat rapi dan terawat. Tak ada lagi ilalang-ilalang liar yang menggangguku ketika aku bermain lari-larian dengan teman-temanku nanti. Benar kata ayah...
“Fira!”
Aku terlonjak kaget dan segera turun dari kursi tamu ketika mendengar suar bundaku memanggil namaku. “Iya, Bunda...!” jawabku sambil berlari ke arah bunda yang ternyata ada di dapur sedang menyiapkan makanan untuk pak Kaslan.
“Bantu bunda bawa ini ke depan buat pak Kaslan, ya?” pinta bunda. Aku mengangguk.
“Bun, pak Kaslan dikasih salak sama mangga juga ya,” kataku pada bunda ketika aku melihat sepiring salak dan mangga di meja makan.
“Boleh. Taruh di piring ya.”
Aku tersenyum dan segera mengambil piring kosong dan segera kuisi dengan salak dan mangga. Nggak tau kenapa rasanya aku ingin memberikan apa saja makanan yang ada di rumah ini untuk pak Kaslan. Aku yakin pak Kaslan pasti capeknya luar biasa, karena pekarangan yang dibersihkannya sangatlah bersih.
Ayah masih menonton pertandingan tinju ketika aku melewati ruang tengah. Saking asiknya, aku lewat di depannya saja dia tak merespon sama sekali. Aku letakkan sepiring buah salak dan mangga di meja luar samping rumah bersama dengan sebakul nasi, lauk dan sayur yang sudah disiapkan bunda untuk pak Kaslan. Tak lupa juga aku mempersilahkan pak Kaslan untuk mencicipi buah-buahan yang kusuguhkan tadi. Aku tidak tau pak Kaslan suka salak ataukah tidak. Apakah dia punya kebiasaan seperti aku – yang kalau makan salak lidah akan terasa perih – ataukah tidak. Alasanku ketika ingin memberikan salak adalah karena banyak salak di meja makan lantaran tidak ada yang makan. Daripada busuk, sayang, aku kasihkan saja ke pak Kaslan. Itung-itung saling berbagi agar bisa sama-sama menikmati satu sama lain.
***
Usai sholat maghrib berjamah biasanya ayah tak lantas bergegas pergi. Aku sengaja menunggui ayah di belakangnya. Membiarkan bunda, kak Zafran, dan kak Zuhruf lebih dulu keluar dari ruang sholat.
“Yah, kenapa pak Kaslan cacat?” tanyaku pada ayah ketika dia menoleh ke arahku.
Ayah memutar badannya 1800 dan sekarang duduk tepat di hadapanku.
“Kenapa nanya terus soal pak Kaslan? Ada apa?” tanya ayah penuh selidik.
“Fira pengen tahu aja.”
Aku senyum-senyum menjawab pertanyaan ayah. Aku menggeser dudukku lebih dekat ke sisi kanan ayah. Biasanya, kalau sudah begitu ayah akan bercerita panjang lebar tentang semua yang ingin aku ketahui, karena ayahku jago banget bercerita.
“Pak Kaslan itu memang sudah cacat sejak lahir. Dikasih oleh Allah tangan satu tangan yang lebih kecil dari tangan satunya dan kaki yang tidak setegak orang normal pada umumnya.”
“Ayah kenal dekat dengan pak Kaslan?”
“Kenal. Dulu, ayah sering main ke hutan dekat rumahnya pak Kaslan. Pak Kaslan juga sering main bersama ayah. Tapi, umur pak Kaslan lebih tua dari ayah. Meskipun pak Kaslan punya kekurangan, Allah memberikan kelebihan padanya. Pak Kaslan adalah orang yang gigih dan ulet. Dia tidak pernah mengeluh dengan seberat apapun pekerjaan yang orang-orang berikan padanya. Pak Kaslan juga orangnya tidak pemilih dengan pekerjaan. Apapun yang orang lain suruh, selagi dia bisa akan dia kerjakan. Meskipun nama dia Kaslan yang artinya malas, tapi pak Kaslan bukanlah orang yang malas.”
Aku mengangguk-angguk faham.
“Dan satu lagi. Meskipun pak Kaslan jalannya terlihat susah, tapi kemana-mana dia selalu kuat untuk berjalan. Mau jauh mau dekat dia tempuh dengan berjalan kaki,” lanjut ayah.
“Jalan kaki, Ayah?! Berarti tadi pagi pak Kaslan jalan kaki dari lapangan deket hutan sana sampai ke sini?” tanyaku setengah tak percaya.
Ayah mengangguk. Sulit sekali aku membayangkannya. Aku sama kak Zafran dan kak Zuhruf aja kalau mau melihat pertandingan bola antar kampung di lapangan sana, kami tempuh dengan naik sepeda. Itupun jau...h banget.
“Makanya, jangan suka mengeluh kalau seandaninya pulang sekolah atau pergi ke sekolah harus jalan kaki. Mau jauh atau dekat kalau dinikmati juga akan terasa ringan dan tidak capek. Selalu bersyukur sama Allah karena sudah diberi anggota badan yang sehat.”
“Iya, Ayah.”
“Fira tau, kenapa Bunda atau Ayah menyuruh Fira untuk jalan kalau pulang sekolah atau pas berangkat sekolah atau kalau ngaji sore di masjid? Dan kenapa Ayah hanya memberikan satu kesempatan pada Fira untuk memilih dijemput pas pulang sekolah atau diantar pas berangkat sekolah?”
“Karena Ayah dan Bunda bekerja. Kak Zafran kuliah dan kak Zuhruf sekolahnya jauh dari Fira.”
“Bukan itu alasannya.”
“Terus, apa?”
“Karena Ayah dan Bunda ingin Fira bisa belajar dari setiap kejadian atau cerita yang Fira alami dalam hidup Fira. Dengan begitu Fira bisa tau lingkungan Fira seperti apa dan bagaimana harus menyikapinya. Suatu saat nanti, hal-hal sepele yang kadang buat Fira jengkel, akan jadi kisah indah hidup Fira yang bisa Fira ceritakan di kemudian hari. Kepada siapapun itu. Karena tidak semua orang punya kisah hidup yang sama. Jadi jangan pernah berkecil hati jika Fira harus berjalan kaki jauh ke sekolah sedangkan teman-teman Fira pada dijemput. Dulu kak Zafran sama kak Zuhruf juga sama seperti Fira. Sama juga awalnya mengeluh dan nangis, tapi lama-lama juga terbiasa.”
Tak terasa adzan isyak sudah berkumandang. Lagi-lagi aku sedikit tersadar dengan cerita ayah dan maksud ayah barusan. Dan ini adalah satu dari petuah-petuah inspiratif yang ayah berikan untukku. Bukan, tepatnya untuk aku dan kakak-kakakku.
***
Siangnya, sepulang sekolah, aku tak mendapati pak Kaslan bekerja lagi di rumah kami. Ternyata, Bunda hanya menyuruh pak Kaslan sehari saja membersihkan seluruh pekarangan rumah kami. Tapi sore hari, ketika aku dan kak Zuhruf pulang dari lapangan setelah bermain sepak bola dengan teman-teman kak Zuhruf, aku melihat pak Kaslan. Ya, pak Kaslan yang namanya tak sesuai dengan perilakunya itu. Pak Kaslan sedang berjalan berpapasan denganku yang dibonceng kak Zuhruf dengan sepeda.
Yang dikatakan ayah lagi-lagi benar adanya. Pak Kaslan kemana-mana selalu jalan kaki. Aku menebak, dia baru pulang dari sawah, karena dia menenteng sabit dan memanggul rumput di bahunya. Tapi sayang, pak Kaslan tak mengenaliku ketika kedua mata kami beradu tatap. Tapi tak apalah, tak juga jadi masalah. Toh tak ada jeleknya mengagumi kebaikan orang lain meski orang itu tidak mengenal kita.
Ah, pak Kaslan...

Jepara, 27 November 2013
Teruntuk: Pak Kaslan