Kamis, 26 Desember 2013

Perempuan Di Balik Senja

angin masih bertiup menerpa gelungan rambutmu. mempermainkannya seakan tak punya rasa sopan. kau tersenyum simpul di sudut bibirmu yang tipis. simbol ketegasan akan bicaramu yang kadang ngracau tapi memikat. kulihat sosok tenangmu di kejauhan sana. sudut terjauh yang tak kan pernah kau lihat bahkan untuk kau toleh. dan angin masih tetap mencabik-cabik gelungan rambutmu. andai bayangmu dapat merasa, dia kan tak tega melihat sang empu tak rapi rambutnya. dia kan merapikannya, melilitnya dengan bersama gelungan rambutmu yang lain. tapi bayang tak dapat bergerak berlawanan dengan ragamu. karena bayang adalah teman mati tersetiamu.
"Bolehkah aku bermain denganmu?," ucapmu saat kau lihat anak kecil bermain sendirian mengobrak-abrik pasir tak jauh darimu berdiri.
"Silahkan," jawabnya polos. sepolos dirimu saat pertama kumengenalmu dulu.
tumpukan pasir yang halus tapi rapuh, kau sulap jadi gundukan yang indah dan kokoh dengan teman barumu. kalian tertawa dan saling mengusap peluh. kau menemukan duniamu. dunia yang kau impikan untuk jadi sosok yang mandiri. kau bergelut dengannya meski kadang dunia-dunia lain menolakmu. kau pasrah tapi jauh dari putus asa. kau bangkit...lagi...dan lagi. sampai dunia itu bosan melihat ulahmu dan tunduk berserah padamu. kau hebat bagiku. sehebat angin laut yang mampu merobohkan karang.
senja semakin menampakkan jingganya. ah, apakah senja itu berwarna jingga? sepertinya ada perpaduan warna lain didalamnya. aku tak pernah bisa menjelaskan apa warna senja sesungguhnya. orange, kelabu, kuning, emas, atau apalah itu... tapi kau? kau selalu bisa membuatku berkata iya dan mengangguk dengan jawabanmu. setuju dengan pendapat dan penjelasanmu. kau memang benar-benar sang pengaruh.
sekonyong-konyong perempuan paruh baya menghampirumu. mengobrol 'babibu' denganmu. seperti bernegosiasi. aku mengernyit penasaran. apakah dia akan mengambilmu? gadis kecil di bawahmu menatap nanar polos tak mengerti. kenapa nenek itu memarahi temanku? barangkali seperti itulah yang ada dibenaknya. dia meneteskan air mata saat tangan kuat itu menyeretmu menjauh dari bibir pantai. dia ketakutan jika kau disakiti olehnya. tapi dia tak menangis selayaknya anak kecil. teman barumu tak ingin kau meninggalkannya...
perempuan paro baya itu berjalan di depanmu sambil menggandeng tangan kananmu, dan kau menguntit di belakangnya. wajahmu manyun tak ingin. tapi kau tak boleh menyalahi kodratmu sebagai seorang perempuan. waktu petang, saatnya para pemangsa sadis keluar dari sarangnya. membawa golok dengan tampang garangnya memangsa mereka yang lemah tak tau arah. sosok paruh baya itu tak ingin kau diperlakukan seperti itu. dan aku kira, kau jauh lebih tau dari aku. karena kau adalah ensiklopedi berjalan.
nyiur daun kelapa melambai-lambai pada sosokmu. saat itulah bayangmu seakan hidup untuk menahanmu. tapi dia tak kuasa. dia hanya bisa berkata pada ombak, angin, perahu, pasir, dan pohon, bahwa esok petang sang empu akan datang menyambang kesini. bersua bersama dalam keheningan... dan sosokku nan jauh disana, kan tetap ada mengukir sejarahmu.
*to be continue..