Sabtu, 02 November 2013

MEMORABILIA



Masih tentang hujan yang meninggalkan genangan. Di jalan, di pekarangan rumah, dan di sudut ruang tamu mereka. Lima rangkai tulang berdaging dengan rentang umur yang tak jauh satu sama lain. Usia Sulung 15 tahun, disusul adiknya 13 tahun, 12 tahun, 10 tahun, dan yang paling Bungsu 9 tahun. Dalam naungan atap rumah mereka, seorang laki-laki paro baya menemani hari-hari mereka. Lebih tepatnya, menemani merepoti hari-hari mereka. Kata tetangga mereka, laki-laki hampir sekarat itu adalah kutukan bagi mereka. Bisu dan stroke bertahun-tahun bertahan dalam tubuhnya yang mulai meringkih.
 Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Sulung tumbuh dengan kedewasaan yang hampir matang. Diusianya yang masih remaja, Sulung sudah dianggap sebagai perempuan dewasa. Dari parasnya, dia pantas jadi kembang desa. Belum ada gadis di desanya yang bisa menandinggi keelokan parasnya. Kalau saja orang tua mereka binal, Sulung bisa mereka kawinkan dengan perjaka binal di kampung sebelah demi lembaran uang untuk biaya hidup mereka yang serba minus. Minus untuk makan, sandang, dan pendidikan mereka.
Tinggal di salah satu pelosok sudut bumi bagian Timur, mengajarkan Sulung dan adik-adiknya menjadi orang yang beradab bukan biadab. Pesan itu Sulung peroleh sebelum sang Ibu melangkah jauh dari pandangan mata sipitnya ketika dia berumur 12 tahun. Sang Ibu pergi, berganti dengan laki-laki paro baya yang seakan hidup segan mati pun belum saatnya.
“Jaga dia dan adikmu baik-baik. Kamu adalah kakak dari adik-adikmu. Kamu akan jadi panutan buat mereka kelak. Jadi...” Kalimat ibunya tertahan oleh air mata yang menetes di kedua pipinya. Sulung hanya menatap bingung. “Jadilah anak yang baik. Yang beradab bukan biadab. Teruslah belajar yang rajin.” Dan lagi-lagi Sulung hanya menatap bingung ibunya. “Jaga diri baik-baik. Ibu akan segera kembali,” kepalanya menggangguk sembari matanya meneteskan air mata.
“Ibu mau kemana? Ibu pergi jauh? Kapan Ibu kembali?” Tanya Sulung sesenggukan.
“Segera.” Dan bayangannya pun perlahan-lahan menghilang dari pandangan Sulung.
Matanya memandangi keempat adiknya yang masih kecil dan ringkih terpekur tidur di bale bambu, dan berakhir ke sosok paro baya yang jauh lebih ringkih dari mereka. Diam-diam dia berfikir, apakah aku kuat menopang orang-orang ini?
Tiga tahun kepergian ibunya, Sulung mampu menjalani hari-hari bersama keempat adiknya dan laki-laki asing paro baya, yang dia dan adik-adiknya tak pernah memanggilnya dengan panggilan apapun. Makan biasa mereka jalani bersama setiap hari. Bercocok tanam di sawah, tak jadi beban buat mereka. Belajar dari alam, karena alam akan memberikan balasan baik bagi mereka yang memperlakukan alam dengan baik. Dan sekolah pun mereka jalani bersama setiap hari. Berangkat berjalan bersama mentari pagi dan pulang berpayung terik mentari. Meraka melakukannya bersama-sama. Bersama. Tak ingin terpisahkan.
Dan ketika musim hujan tiba, mereka harus rela berbasah-basahan melawan derai hujan yang membasahi baju, sepatu, dan tas mereka. Menjadikan pengap buku-buku mereka dan akan berlubang dengan sekali tekanan pensil ketika harus mencatat pelajaran di kelas. Dengan tiupan angin hangat ajaib dari mulut dan tangan mereka, lembaran buku itu akan setengah kering. Dan pensil mereka pun siap untuk merajut mimpi-mimpi mereka. Tentu dengan semangat senyuman mereka yang akan terus merekah.
Dan masih ketika musim hujan tiba, mereka harus rela menunggu pasukan hujan itu reda menghujami bumi mereka. Di bawah pohon besar ini, yang kata mereka adalah `payung alam milik mereka`, tiga orang putri dan dua orang pangeran dari kerajaan seberang menunggu getek[1] yang akan membawa mereka melayari danau luas menuju istana mereka. Ritual ini sudah mereka jalani bersama selama bertahun-tahun. Tapi, ritual menengadahkan tangan, menadahi tetesan air hujan yang jatuh dari ujung daun-daun payung alam milik mereka, baru dua tahun dijalani Sulung. Dan Sulung hanya meniru kebiasaan temannya, Bayu, yang selalu mengumpulkan tetesan air hujan di kedua tangannya. Dan ketika air di tangan sudah penuh, dia akan membuangnya ke bumi. Meluruhkannya bersama tetesan lainnya yang mengalir entah bermuara kemana. Yang diingat oleh Sulung ketika dia bertanya ke temannya, temannya hanya menjawab: “Membuang kesedihan langit ke tempat semestinya.”
Dan kali ini, usia Sulung menginjak ke angka 20. Usia yang tidak lagi remaja. Dan Sulung baru memahami jawaban temannya seutuhnya. Seutuh jiwa-raganya untuk merelakan kepergian ibunya yang tak tau kapan akan segera kembali. Begitu juga dengan ayahnya. Yang kata tetangganya sudah meninggalkan Sulung, ibunya dan adik-adiknya tanpa alasan yang tak jelas juga. Dan Sulung cukup belajar dari semua itu. Bukankah kejadian di masa silam cukup untuk dijadikan pelajaran memahami kehidupan sekarang dan masa depan? Dan barangkali, kata `segera` ibunya dengan `segera` Sulung berbeda. Antara `segera` orang dewasa dengan `segera` anak kecil yang masih polos.
$$$$$$$$$$$$$$$
Deru kendaraan, asap knalpot, dan bunyi klakson bersatu padu membentuk orkestra tunggal di tengah teriknya siang kota Jogja. Lampu merah, jadi tempat favorit mereka menggelar konser akbar. Timer yang dipasang di tiang traffict light masih memperlihatkan angka 89 berwarna merah yang terus menghitung mundur. Di tengah-tengah persimpangan lampu merah, puluhan mahasiswa mengatasnamakan salah satu ormas berunjuk rasa menuntut keadilan pemerintah menolak kenaikan BBM. Lelaki jangkung berkacamata minus menghembuskan nafas kesal. Sesekali dia menyingkap lengan kemeja panjangnya, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Matanya mulai menyisir bahu jalan yang padat dengan kendaraan yang macet total. Semua kendaraan beradu srobrot dari empat jalur persimpangan lampu merah. Adegan bakar ban tak pelak menambah semaraknya demonstrasi. Polisi yang berjaga terlihat kewalahan mengatasi polah demonstran dan kendaraan yang lewat.
Seorang perempuan yang duduk di kursi sebelahnya, menatap curi-curi pandang menertawakan tingkah gelisahnya. Suasana seperti ini barangkali sudah biasa terjadi, mas. Aku sering mengalaminya.  Kenapa harus gelisah gitu? Biasa saja. Ini resiko pengguna jalan dan pengguna kendaraan umum. Barangkali seperti itulah yang ada di benak perempuan itu.
Setelah menunggu lima belas menit, bus Trans Jogja pun melaju seperti semula. Berhenti di tiap shalter-nya, menurunkan penumpangnya dan menaikkan penumpangnya. Dan sudah tiga kali shalter, laki-laki berkacamata itu masih belum juga turun. Tapi duduknya kini mulai tenang.
Suara kresek-kresek... klotak-klotak... terdengar sayup-sayup di gendang telinga laki-laki berkacamata. Matanya pun melirik ke arah suara. Matanya mendapati seorang perempuan berambut panjang sepunggung, rok selutut dengan blus lengan ¾, satu tas jinjing yang mungkin barang bawaan dia dari bepergian, terpangku di kedua pahanya. Laki-laki berkacamata itu melihat risih polah perempuan kampungan itu.
Setelah sepersekian detik, polah perempuan itu mencuri perhatian laki-laki berkacamata, perempuan itu terlihat tersenyum lega. Selembar kertas kumal bekas lekukan dimana-mana dan terlihat lama tersimpan, sudah dia temukan. Barang yang dia nobatkan sebagai harta yang paling berharga dari harta berharga miliknya. Dan tepat di shalter selanjutnya, mereka berdua turun bersamaan, saling bertatap pandang heran. Dan ternyata, gang yang mereka tuju juga SAMA!
$$$$$$$$$$$$$$$
Hamparan ilalang yang hijau dan kupu-kupu yang terbang mengitari bebungaan di samping gubuk, tempat biasa para penggembala melepas lelah, masih tetap sama sepanjang tahun. Tak ada yang berubah dari padang rumput ini. Hampir setiap hari, Sulung dan adik-adiknya, selalu menyempatkan waktu untuk istirahat sejenak disini setelah lelah bercocok tanam di kebun mereka. Menikmati setiap inci keindahan alam yang Tuhan ciptakan untuk mereka yang hidup. Menghirup setiap kebebasan yang tak pernah ingin menjadi akhir sebelum pada waktunya tiba.
Dan seperti biasa pula, mereka tak sendirian menyandarkan lelah di padang ilalang ini. Teman mereka, Bayu, selalu ada diantara mereka.
“Kamu selalu membawa adik-adikmu kesini ya kalau istirahat?”
“Iya,” jawab Sulung.
“Apa mereka tidak mengeluh? Rumahmu dengan padang ilalang ini cukup jauh, bukan?”
 “Tidak,” jawab Sulung sembari menggeleng tersenyum. “Mereka tidak pernah mengeluh sama sekali. Justru karena jauh itulah yang mengajarkan kami kalau hidup yang akan kita jalani ini masih panjang. Dan setiap rintangan yang kita alami di jalan, hanyalah ujian kecil yang diberikan Tuhan pada kita untuk melihat keindahan hidup yang mungkin bisa panjang dan mungkin juga bisa pendek. Padang ilalang ini buktinya. Kita akan selalu menemukan tempat tujuan yang indah setelah perjalanan yang melelahkan. Itu janji Tuhanku pada makhluk-Nya”
Dan tiupan angin yang menerbangkan daun-daun ke atas kepala mereka, menghentikan percakapan mereka. Berganti dengan rintihan dahan pohon yang mendecit membalas sapaan angin. Dan mereka hanya tersenyum bersama merasakan nikmat-nikmat alam ini.
“Nur, apa cita-cita kamu?” tanya Bayu tiba-tiba.
Si Sulung, Nur, tersenyum mendengar pertanyaan Bayu. Umurnya kini sudah 20 tahun, terlalu kadaluarsa untuk menanyakan cita-cita. Dua kata itu seakan hanya pas jika ditanyakan pada anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah merah-putih, bukannya kepada seorang perempuan yang sudah tidak memakai seragam lagi.
“Aku ingin ke Jawa, Yu.” Nur berujar perlahan sembari menatap jauh ujung horizontal batas langit dan bumi.
“Pulau Jawa?! Kenapa?” tanya Bayu terheran-heran.
“Ibu kota dan kota-kota besar di Jawa selalu menjadi tempat tujuan orang-orang kampung seperti kita untuk mencari kehidupan yang layak. Barangkali suatu saat hidup yang kita alami bisa berubah. Hari tak selamanya gelap, tapi juga tak selamanya akan terang.”
Bayu tersenyum mendengar penuturan si Sulung, Nur. Perempuan belia di depannya ini selalu membuat dia terkagum-kagum sejak pertama kali mereka sekolah bersama. Meski berbeda dua tahun ajaran dengan Nur, tapi ucapan Nur selalu bisa terdengar lebih dewasa dari Bayu. Memang, kedewasaan manusia tak selalu bertopang pada umur.
“Kalau kamu apa?” tanya Nur balik bertanya kepada Bayu.
“Sama. Aku ingin mencari orang tuaku disana. Kata nenekku, orang tuaku tinggal di Jawa.”
Dan mereka tertawa bersama, menertawakan diri masing-masing. Dan suara tawa Bayu itulah yang membuat Nur betah berlama-lama di samping Bayu. Nur seakan merasakan rasa yang tak bisa dia artikan sendiri. Bagi Nur rasa itu akan berarti jika ada di samping Bayu.
“Kenapa jalan fikiran kita selalu sama, Nur?” tanya Bayu setelah mereka lelah tertawa. Nur memandang balas tatapan Bayu. Mencari jawaban di sela kilatan tatapan mata elang milik Bayu.
“Karena yang sekarang aku lihat di bola matamu hanya aku. Dan yang ada di bola mataku hanya kamu.”
Mendengar jawaban Nur, Bayu terdiam. Hanya angin, daun, ranting, dan burung yang berbicara sesuai bahasa mereka masing-masing.
$$$$$$$$$$$$$$$


“Anda mengikuti, saya?” tukas perempuan itu kepada laki-laki berkacamata. Laki-laki berkacamata sontak kaget mendapati perempuan tak dia kenal berkata lancang seperti itu di depannya. Dia membetulkan kacamatanya yang miring sedikit ke kanan, ke bentuk awalnya. Kemudian memandangi perempuan itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Buat apa saya mengikuti, Anda? Saya tidak ada urusan dengan Anda,” jawab laki-laki itu tegas. Kemudian langkahnya berlalu meninggalkan perempuan itu yang berdiri terpaku di tempatnya. Dibuatnya perempuan itu malu dan tak tau harus berbuat apa. Perempuan kampungan itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang gatal karena lembab.
Perempuan itu mulai melangkah cepat. Berharap alamat yang sekarang ada di tangannya segera dia temukan. Tapi lagi-lagi, laki-laki itu selalu terlihat berjalan di setiap jalan yang dia lalui.
Jalan Delima blok D No. 304!
Dan lagi-lagi mereka memasuki pintu pekarangan yang SAMA.
$$$$$$$$$$$$$$$
Merantau sudah menjadi tradisi dimana-mana. Meninggalkan sanak saudara dan juga kenangan. Dan tekat bulat Nur untuk merantau sudah berada di ubun-ubun. Melihat sebuah alamat diatas kertas putih, yang beberapa bulan lalu dikirimkan untuknya bersama dengan amplop coklat yang biasa dia terima setiap bulannya, hatinya semakin bungah dan mencuat senang. Dan hatinya semakin berbunga-bunga ketika dia mendapati tulisan Astuti terparaf di bawah alamat tersebut. Sewaktu dia kecil, ibunya pernah bercerita tentang nama itu. Seingat Nur, nama itu adalah nama dari kakak ibunya. Kini, Astuti mengiriminya alamat yang kelak bisa menjadi tujuan Nur.
Adik-adiknya sudah mulai beranjak dewasa. Sudah bisa ditinggal sendiri dalam kurun waktu yang lama. Dan mereka juga mulai faham dengan kehidupan dan segala kebutuhannya. Beberapa rencana sudah dia rancang, begitu sampai di kota nanti. Dimulai dari mencari alamat Astuti, disusul dengan mencari pekerjaan. Rencananya ini juga dia utarakan ke adik-adiknya. Adik-adiknya memperbolehkan Nur jauh dari mereka agar Nur bisa bertemu dengan Astuti. Nur meyakinkan adik-adiknya, rencananya ini akan berjalan mulus. Meski kadang yang dibayangkan tak selamanya akan berakhir mulus. Dan Nur juga berjanji suatu saat dia akan kembali. Kembali yang benar-benar kembali. Kembali untuk menjemput mereka dan kembali bahagia berkumpul bersama.
Sekarang, dia ingin menemui Bayu di padang ilalang tempat mereka biasa menggembalakan ternak mereka. Beberapa pekan ini dia tak pernah melihat Bayu menggembalakan ternaknya disana. Tapi kali ini, dia merasa yakin kalau Bayu ada disana. Menunggunya seperti hari-hari sebelumnya. Perjalanan yang jauh seakan terpotong pendek terkalahkan oleh rasa buncah yang bergelora di hati Nur. Ini cita-citanya. Ini cita-citanya yang akan terwujud.
Tapi sesampainya di padang ilalang, nasib malang sedang mengahampiri Nur. Tak ada sosok Bayu di gubug padang ilalang. Padang itu sepi tak ada penggembala. Nur memutar arah balik langkahnya. Kini dia berlari lagi ke tepi danau. Ke pohon payung alam miliknya. Tapi lagi-lagi keyakinan Nur pupus. Tak ada sosok Bayu disana. Nur tersungkur lemas dan lelah di bawah pohon payung alam miliknya. Jika dua tempat itu tak ada sosok Bayu, maka tak ada tempat lain yang bisa dia tuju untuk menemukan Bayu. Karena hanya dua tempat itulah yang mempertemukannya dengan Bayu. Bertahun-tahun berteman dengan Bayu, Nur tidak pernah tahu dimana rumahnya.
Nur kembali pulang dengan langkah yang gontai. Hampir saja dia menangis pasrah. Pikirannya melayang mengingat-ingat berapa lama dia tidak bertemu Bayu? Seingatnya tidak lama-lama benar. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, Nur baru ingat. Terakhir mereka bertemu adalah ketika mereka membahas cita-cita. Cita-cita yang bagi Nur hanya milik anak kecil. Sedangkan dari umur 12 tahun, Nur sudah dituntut untuk bisa dewasa.
Nur mengingat-ingat lagi, sudah berapa lama dia terakhir bercengkrama mengenai cita-cita itu dengan Bayu? Tapi pikirannya terlanjur kalut oleh rasa sedih yang perih. Nur telah lupa bahwa kenangan dia bercengkrama dengan Bayu sudah terjadi tiga bulan yang lalu. Kesibukan mengurus orang tua yang ringkih hingga ajal yang tepat telah menjemputnya, menjadikan Nur tak bisa menyadari bahwa cengkrama saat itu adalah memoar terakhir yang pernah mereka lakukan bersama di padang ilalang.
$$$$$$$$$$$$$$$
“Istirahatlah dulu. Tidur-tiduranlah dulu biar capeknya hilang. Kamu pasti lelah kan? Atau kamu lapar? Kamu mau makan dulu, Nur?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Nur terdiam mematung. Dia sudah setengah jam duduk di kursi jati yang berukirkan bunga teratai di setiap sudutnya. Dan selama itu pula pandangannya tak pernah lelah memandangi perempuan jawa nan anggun di depannya. Gaya busananya, rambut cepolnya, dan tutur katanya yang lembut mengingatkan dia pada sosok ibu yang meninggalkannya dan adik-adiknya. Ah, adik-adiknya... bagaimana keadaan dia di sana? Nur tak bisa mengetahuinya. Waktu disana dan disini berbeda sekitar satu jam lebih cepat di sana.
“Kamu mau tidur, istirahat dulu atau mau makan dulu?” Pertanyaan itu dia ulang kembali. Dan buru-buru Nur tersadar akan lamunannya.
“Saya mau istirahat dulu bu Astuti.”
“Hush! Jangan panggil aku bu. Panggil aku Budhe. Aku ini budhemu, Nur.”
“Baik, Budhe.”
“Nah, gitu kan enak didengarnya. Sana kamu istirahat dulu. Budhe tak masak dulu buat makan sore nanti.”
Nur mengekor di belakang Astuti menuju kamar yang akan ditempatinya. Melewati lorong panjang rumah jawa ini, sedikit mengingatkan Nur akan gua-gua kecil yang kerap dia temukan di jalan menuju padang ilalang. Gelapnya hampir sama, tapi eloknya yang berbeda. Di rumah ini dia menemukan banyak ukiran. Setahu Nur, ukiran yang paling terkenal adalah ukiran dari Jepara. Nur mulai teringat dengan adik-adiknya disana dan... Bayu. Ah, barangkali dia sudah ke tanah Jawa.
Tapi... sebentar! Mata Nur terlihat menyipit dan dahinya berkerut. Sebuah foto usang berbingkai hitam menghentikan langkah Nur. Dipandanginya lekat-lekat sosok-sosok di foto itu. Seorang laki-laki diapit dua perempuan dewasa dan beberapa anak kecil berjajar rapi berdiri dibelakang mereka. Nur mengenali ketiga orang dewasa itu. Itu budhe Astuti, ibuk, dan laki-laki paro baya yang tinggal dengan mereka.
“Oh ya, kalau kamu gerah pengen mandi dan ganti pakaian, kamar mandinya di belakang situ.” Tangan Astuti menunjuk ke pekarangan di samping dapur. Di pekarangan itu Nur melihat ada sepetak bangunan kecil yang di depannya ada sumur. Barangkali tempat itu yang di maksud Astuti.
“Budhe. Bolehkah saya bertanya?” tanya Nur hati-hati.
“Boleh. Kamu mau nanya apa?”
“Laki-laki yang ada di foto itu siapanya budhe?”
 “O... itu. Apa ibumu tidak pernah cerita mengenai laki-laki itu?”
Nur menggeleng lemah. Kali ini Nur ingin mendengar kebenaran yang jelas dari orang yang dirasa jelas olehnya, bukan para tetangga yang selalu menyiurkan omongan yang semakin simpang siur. Astuti diam beberapa saat, kemudian mendesah perlahan dan memulai pembicaraan serius dengan Nur.
“Dia adalah suamiku dan suami ibumu. Dia memilih tinggal bersama ibumu di tanah rantau. Dia pikir dia akan bahagia jika tinggal bersama ibumu. Tapi nyatanya... dia mencari pelampiasan ke perempuan lain dan meninggalkan ibumu. Dan piciknya lagi, dia berani datang ke ibumu dan memintanya untuk merawat dia yang berpenyakitan itu. Tapi aku rasa sakit yang dia derita sebanding perbuatannya dulu,dia meninggal di tengah-tengah anak kandungnya yang tak pernah memanggilnya Bapak” Nada Astuti mulai meninggi. Deru nafasnya mulai tak beraturan. Ada amarah yang terpendam yang tak bisa dia luapkan. “Dan ibumu? Dia harus pontang-pantinng nyari uang hingga tak ada lagi kabarnya. Tapi ya sudahlah... toh itu cerita lalu. Siapapun anaknya, juga pasti anakku.
“Dan satu lagi. Laki-laki yang pulang bersama kamu tadi, itu anak Budhe yang terakhir. Hanya dia yang sadar untuk mau menemani budhe disisa nyawa yang semakin pendek ini. Anak jaman sekarang itu kalau pergi merantau sering lupa sama orang tuanya. Bilangnya akan kembali kalau sukses, tapi nyatanya? Mereka terlanjur betah di tanah rantau.”
Dan obrolan pun selesai sampai di sini. Astuti berlalu dari hadapan Nur dan Nur menutup pintu kamarnya. Sedikit ada beberapa sayatan kecil yang Nur rasakan dalam waktu yang tak lebih dari satu jam pertemuan mereka. Kecil tapi seakan membesar perlahan dan menganga dalam. Potongan-potongan cerita yang dia dengar dari Astuti, yang sekaligus ibu tirinya, seakan berputar-putar 3600 dengan kecepatan tinggi. Pusing. Itu yang sekarang dirasakan Nur.
Hidup hampir 8 tahun dengan bapak kandungnya, tapi Nur tak mengetahui kalau laki-laki paro baya itu adalah bapak kandungnya. Orang yang dibilang tetangganya adalah kutukan bagi mereka, ternyata orang yang ikut berperan melahirkan dia. Dan Astuti? Orang yang selama ini dengan baiknya mengirimi mereka uang, ternyata adalah perempuan pertama yang dinikahi bapaknya sebelum ibunya.
Kini, cerita hidupnya 20 tahun silam sudah terlihat jelas. Dan semua itu hanyalah memoar pedih yang semoga saja lekas sembuh. Hidup memang tak selamanya bahagia dan Nur sudah mampu menjalaninya sampai 20 tahun. Sekarang, Nur sudah berada di tempat yang baru, dan memulai kisah hidup yang baru. Tapi kenangan-kenangan itu biarlah menggenang tenang di sudut otaknya yang paling dalam. Nur tak ingin melupaknnya, tapi tak juga ingin selalu terkenang. Biarlah potongan-potongan kisah hidupnya menjadi memorabilia hidup meski rasanya pahit. Dan adik-adiknya, suatu saat Nur akan menjemput mereka. Itu janjinya pada Tuhannya. Janji yang harus dia tepati.
*THE END*


[1]  rakit

HUJAN


Masih ingatkah kamu dengan tetesan air hujan yang membasahi tanah kering bebatuan di depan gedung itu? Gedung dimana kita berdua bersua berbagi suara tentang cerita hidup kita. Kita berceloteh hingga tawa tumpah meramaikan suasana. Rasa dingin yang menyeruak perlahan melalui pori-poriku, berubah menjadi percikan api hangat akan rasa yang menggelora dalam hatiku. Kamu tak akan pernah tau bagaimana rasa itu mekar hingga menjelma menjadi bunga sempurna, yang tak seorangpun kuizinkan untuk melayukannya. Karena bunga itu hanya cocok dengan tangkai awal penopangnya. Pemilik semula dari bunga yang indah itu.
Berpasang-pasang mata menatap ke arah kita berdua yang terlihat dekat, tapi sebenarnya jauh. Jauh sekali. Hanya aku dan kesunyian yang mengetahui benar kapan aku dekat denganmu dan kapan aku jauh denganmu. Sesekali kamu membalas lambaian dan senyuman yang mereka lempar untukmu. Beberapa orang yang menyapamu tak kukenal betul. Sekali dua kali pernah aku melihat mereka ketika sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena secara diam-diam, aku sering melihat dari balik pintu kaca kantormu, apakah ada kamu di sana, apa yang sedang kau lakukan disana, atau apakah kau memikirkan aku? Aku begitu bodoh jika mengingat hal-hal konyol yang kulakukan. Ya. Itulah cinta. Tak ada cinta yang tidak gila. Orang yang waras bisa saja melakukan hal gila jika berurusan dengan satu kata itu. Cinta.
Dan kini, di tempat yang sama, di tempat yang dulu kita pernah duduk berdua di sudut kursi loby gedung kantor tempatku bekerja, aku termenung sendiri. Aku masih seperti dulu, ditemani dengan bayangan – sahabat setia yang tak pernah berpaling dariku kecuali maut yang memisahkan kita – dan kesunyian yang selalu mengiringiku semenjak kepergianmu. Bedanya, kali ini tak ada iringan alunan suara hujan, karena sekarang sedang musim kemarau.
Iseng-iseng aku memesan kopi panas ke bagian pegawai pantry, meski aku sadar hari sedang terik-teriknya. Aku tak peduli dengan orang-orang yang melihat kepulan asap dari cangkir kopi, yang sengaja belum kusentuh sejak disajikan kepadaku lima menit yang lau. Tatapanku melihat lurus ke arah pohon beringin yang tumbuh semakin menjulang ke atas. Tepat di bawah pohon rindang itu, aku selalu melihat Camry hitammu terparkir rapi. Tapi kini, dan sudah satu tahun lebih tempat parkir itu ditempati oleh pegawai baru yang memakai mobil yang sama seperti punyamu. Awalnya, aku mengira itu kamu. tapi setelah aku melihat plat mobilnya, itu bukan nomor cantik pilihanku dulu. Di plat mobilmu, terukir abjad dan angka indah yang hanya aku dan kamu yang tau. Semacam pengingat akan satu moment yang hanya aku dan kamu yang tahu. Pokoknya, semua hanya aku dan kamu yang tau.
“Ra, masih betah berlama-lamaan di sini?” Suara bass Davina yang tak asing lagi di telingaku, mengaburkan khayalan-khayalanku denganmu. Aku refleks menoleh ke arahnya yang ternyata sudah berdiri di sebelahku. Aku lempar senyum tak sempurna ke arahnya. “Are you okay?,” tanyanya lagi. Aku mengangguk saja mendengar pertanyaannya. Haruskah aku bilang ke semua orang yang berseliweran di sekitarku, kalau aku sedang tidak oke?
Yes. I’am fine.” Aku mencoba tegar dengan mengucapkan kalimat perfect itu. Meski Davina akan mudah menebak, kalau jawabanku barusan berkebalikan dengan apa yang aku rasakan sekarang.
“Aku cabut duluan ya. Harus cepet-cepet nyampe rumah.” Davina menggerakkan ujung mata kanannya mengisyaratkan tanda panah agar aku melihat ke arah yang dia tunjuk. Seongok daging bertulang berwujud laki-laki berdiri tegak di sampingnya. Aku melempar senyum juga ke arahnya. Aku mengenalnya. Candra. Laki-laki yang sudah memacari Davina empat tahun ini. Langgeng betul dia, ya. Biasanya satu tahun dua kali.
Aku mengangguk lagi. Memberikan ketegasan padanya sekali lagi bahwa aku akan baik-baik saja tanpa dia di sisiku. Davina tersenyum dan mengelus-elus bahuku. Please, aku tak semenyedihkan yang kau kira. Aku akan baik-baik saja, okay? Dengan langkah bahagia dan kedua tangan mereka terpaut satu sama lain, mereka melangkah melewati pintu masuk gedung. Aku terus menatap mereka hingga tubuh mereka terlihat mengecil di parkiran. Dan saat itulah aku menyadari, ternyata kopi panas yang aku pesan sudah tidak mengepul lagi. Dan ketika jari-jari tangan kananku memegang tubuh cangkir, cangkir itu tidak menyalurkan efek panasnya lagi. Hmm...sudah berapa lamakah aku termenung sendirian seperti orang tak waras di ruang tunggu ini? Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruang loby. Ternyata kosong. Sudah saatnya jam pulang kantor.
++++++++++++
“Ra, coba tebak. Kabar apa yang akan aku kasih tau ke kamu pagi ini?” Muka Davina sumringah menyambutku yang baru datang. Belum juga aku meletakkan tasku ke meja kerjaku, Davina sudah menyeret lenganku ke arah sofa di dekat jendela ruang kerjaku. Aku mengikuti Davina yang duduk manis sambil mengumbar senyum tak henti-hentinya sejak aku datang. Aku menatapnya. Dan bersiap mendengarkan celoteh gosipnya, seperti pagi-pagi sebelumnya. Yah, bisa dibilang hal seperti ini adalah ritual para ladies di kantorku. Berbagi informasi.
“Ini angka berapa?” Davina mulai main-main menguji kewarasanku dengan mengacungkan jari telunjuknya ke depan mukaku.
“Satu.” Jawabku.
“Kalau ini?” Kali ini jari tengahnya ikut diacungkan ke depan mukaku.
“Dua.”
“Kalau ini?” Dan kali ini tingkah Davina seperti guru TK yang mengajarkan anak-anak balita berhitung di Taman Kanak-kanak. Jari manisnya juga ikut-ikutan dipamerkan ke depan mukaku.
“Tiga.” Aku tersenyum lebar menjawab pertanyaannya.
“Untuk yang terakhir.” Davina mengacungkan jari-jari tangan kanannya kecuali ibu jari ke arahku.
“Empat.” Jawabku cepat berharap aku tak segila dirinya yang baru sekarang belajar berhitung. Aku menatap muka cerahnya dengan tatapan sebal.
“Yup. Empat. Butuh empat tahun untuk Candra akhirnya siap melamarku!” Tangan kirinya memasukkan cincin putih yang cantik ke jari manis tangan kanannya. Ekspresi bahagia terpancar jelas di wajah putihnya. Senyumnya lebar bahagia. Aku membalas senyumannya dengan tertawa kecil yang semoga terdengar tulus dan senang. Aku merangkulnya, mengucapkan kata selamat dan sedikit kalimat-kalimat pembahagia di hari-hari menjelang hari kebahagiaan sempurnanya.
Davina menarik nafas panjang, dan menghembusknanya perlahan. “Bulan depan aku akan menikah. Kamu bantu aku nyiapin semuanya ya. Ntar siang temenin aku ke penjahit langganan mamaku buat pesen kebaya. Trus aku traktir kamu makan siang di restoran tempat aku dan Candra pertama kali nge-date. Oke?”
“Oke.”
Thank you. I love you.” Kecupan bibir Davina menyisakan rasa lembab di pipi kiriku. Aku hanya bisa tersenyum memandangnya keluar dari ruanganku, dengan terus menggenggan jemari tangan kanannya.
Dan kini aku duduk sendirian. Sendiri. Perabotan di seluruh ruanganku seakan menertawakanku. Entah menertawakan apa. Yang pasti mereka hidup dan memiliki nyawa. Aku meraba dadaku, degub jantungku mulai berpacu cepat. Ulu hatiku terasa ada yang menusuk-nusuk. Aku sakit hati. Dan aku tak mau terkena sirosis.
Buru-buru aku bangkit dan berjalan ke arah mejaku. Aku nyalakan komputer, kubuka berkas-berkas yang menumpuk di meja, dan mencoba untuk memfokuskan pikiran. Fokus Clara... Fokus.
++++++++++++
Jam siang akan berlangsung lima puluh menit lagi. Aku mematut-matut wajahku melalui figura foto yang selalu aku pajang di meja kerjaku. Bingkainya yang hitam klasik, pilihan pas untuk sosok di foto tersebut yang juga sama klasiknya.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruanganku diketuk dari luar. Ritual mengelus setiap inci foto itu harus terpotong begitu mendengar ketukan yang mengagetkanku.
“Masuk.”
Salah seorang pegawai pantry masuk dengan membawa nampan di kedua tangannya.
“Selamat siang mbak Clara. Ada titipan buat mbak Clara,” katanya ramah. Aku melihat ke co-card yang menggelantung di saku bajunya. Kurnia. Kita memiliki vokal huruf depan yang dibaca sama. Aku melihatnya menyajikan secangkir coffee latte panas, sepiring nasi goreng babat, dan sebutir apel merah, tersaji cantik di depanku. Dahiku berkerut. Siapa yang memesan ini semua? Coffee latte panas... nasi goreng babat... dan apel merah. Jangan-jangan... dia.
“Silahkan, mbak Clara,” ucap Kurnia.
“Siapa yang memesan ini semua?,” tanyaku heran.
“Seseorang, mbak. Dia tidak mau menyebutkan namanya. Dia hanya berpesan, agar mbak Clara menghabiskan makan siang ini.” Aku terdiam mendengar penuturannya. Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku. Aku semakin merasakan rasa yang sudah lama aku rasakan selama ini. “Kalau tidak ada yang saya kerjakan lagi, saya mohon permisi mbak Clara.”
“Iya.” Aku mengangguk.
Kurnia tersenyum kemudia berbalik arah menuju pintu. Membuka pintunya dan sebelum dia menutup...
“Kurnia!” Kurnia menoleh ke arahku. “Tolong ucapkan makasih untuk orang yang sudah mengirimkan semua ini.” Kurnia mengangguk kemudian menutup pintu.
Siapa yang mengirim semua ini? Mungkinkah dia? Tidak. Ini sungguh tidak masuk akal. Tak mungkin dia.
++++++++++++
Aku memenuhi janjiku pada Davina untuk menemaninya ke penjahit langganan mamanya. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di rumah mode yang terletak menyempil diantara perumahan-perumahan yang sepi. Suasana kompleknya sepi. Gerbang-gerbang rumah di perumahan ini juga tertutup semua. Tak ada suara tawa anak kecil bermain. Benar-benar sunyi dan sepi.
“Ayo Ra masuk. Udah... ikut masuk aja.” Davina kaget melihatku yang masih duduk di dalam mobil sambil melihat ke area komplek yang lengang. “Ini kan butiknya tante Mila. Kamu masih ingat kan?,” tanya Davina.
Seketika itu juga aku mengingatnya. Tante Mila. Sahabat dari mama Davina yang juga seorang desaigner lokal yang lumayan diperhitungkan di Jogja.
“Ayo. Nggak apa-apa. Temani aku milih kebaya yang pas buat hari bahagiaku.”
Aku tersenyum dan mengangguk. Kami berjalan bersama dan langsung menuju butik tante Mila yang terletak di lantai satu rumahnya. Aku memandangi sekitar. Beberapa kebaya di-display rapi berjajar di dekat jendela kaca besar dan tinggi. Davina langsung menghambur memeluk tante Mila begitu melihatnya keluar dari ruangan sebelah. Aku tersenyum menyapa tante Mila yang berdiri agak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Dan tante Mila tersenyum membalasku. Aku melihat ada obrolan kecil antara Davina dan tante Mila. Aku menunggu Davina mencari kebaya yang pas dengan duduk-duduk santai di kursi yang sudah disediakan di pinggir-pinggir ruangan butik. Sesekali kubuka katalog yang tergeletak di sampingku. Tapi dengan mudahnya aku menghempaskannya kembali ke kursi di sebelahku, setelah kenangan itu tiba-tiba hadir.
Aku sudah satu jam lebih menunggui Davina yang masih bingung dengan model kebayanya besok. Lama-lama aku bosan hanya duduk-duduk saja. Dan lama-lama, hatiku semakin tertusuk-tusuk. Aku berjalan keluar butik dan masuk ke dalam mobil. Kuhempaskan tubuhku dan kupejamkan mataku. Ternyata benar, semakin aku melupakan, semakin tertanam dalam ingatanku akan dia. Selang beberapa menit akhirnya Davina keluar juga.
++++++++++++
Aku mengurungkan niat Davina untuk mentraktirku makan siang. Biarlah. Bisa dilakukan kapan-kapan kalau memang sempat kita lakukan. Aku meminta Davina untuk mengantarku kembali ke kantor. Aku beralasan ada beberapa dokumen yang belum aku baca untuk presentasi besok. Tak apalah aku berbohong. Toh nasi sudah terlanjur bubur. Dan aku sudah terlanjur sering berbohong ke Davina.
Begitu sampai di kantor, Davina meminta izin untuk pergi lagi ke tempat percetakan undangan. Aku mengiyakan dan meminta maaf tak bisa menemaninya. Sepertinya Davina terlalu memahamiku yang masih saja terlihat kalut. Wajahku tak bisa diajak kompromi untuk hal berbohong. Davina pernah bilang, wajahku adalah kejujuranku. Mulutku bisa bohong, tapi ekspresi wajahku tak bisa.
Mobil Davina melaju mengikuti puluhan bahkan mungkin ribuan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya. Aku berjalan ke pintu masuk gedung kantorku. Dan kepalaku terasa pusing ketika aku sudah memasuki loby gedung. Aku sandarkan badanku di kursi tunggu loby. Ada salah satu pegawai pantry yang kebetulan melintas di depanku. Bukan Kurnia. Tapi entahlah siapa. Aku kurang berbaur dengan mereka sehingga aku kurang mengenal mereka. Aku memesan secangkir kopi panas untuk kuminum di loby.
Hapeku bergetar. Satu pesan diterima. Kulihat nama pengirim pesan, Davina.
Tak ada yang salah dengan kenangan. Karena kenangan ada bukan untuk dilupakan, tapi untuk diingat sebagai kisah dimasa lalu. Hanya untuk masa lalu, karena masa depan sudah menanti kita. Bolehlah... kita kapan-kapan karaokean bareng. He3 J
Aku tersenyum membaca sms dari Davina. Susah sekali menemukan teman sebaik dirinya. Aku cepat membalas sms-nya.
ok.
++++++++++++
Aku berharap hari ini akan turun hujan. Meski aku tau ini sedang musim kemarau. Aku ingin membagi kenaganku dengan hujan yang selalu mengingatkanku padanya. Biarkan aliran airnya membawa kenangan itu ke tempatnya.
Beberapa menit yang lalu aku melihat Davina bergandengan dengan tunangannya. Entah kapan dia kembali ke kantor sampai aku tak melihatnya. Atau seharusnya kalimat pertanyaan heran itu tertuju kepadaku, berapa lamakah aku melamun seorang diri di loby gedung kantorku? Hingga jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore. Jam pulang kantor.
Buru-buru aku naik ke atas. Ke ruangan kerjaku. Beberapa berkas harus aku bawa pulang untuk kupelajari lebih lanjut. Dan kali ini aku tidak bohong. Karena memang besok aku ada meeting dengan pimpinan perusahaan untuk deal or no deal proyek baru.
Fiuh!! Semangat Clara. Move on...
Menyemangati diri sendiri untuk kepentingan diri sendiri. J
+++++++++++
Aku berlari-lari kecil menuruni tangga loby hingga pintu masuk gedung. Hari ini aku ingin segera sampai ke rumah. Mandi, makan, kemudian tidur. Seharian berkutat dengan perasaan ternyata menguras tenagaku. Berfikir butuh tenaga ekstra. Aku terus berjalan menyisir parkiran yang sudah mulai sepi dengan kendaraan. Hanya ada satu-dua yang masih terparkir rapi. Tapi...
Tik... Tik... Tik...
Butiran-butiran bening menetes dari atas langit. Aku terperanggah tak percaya. Hujan. Harapanku terkabul. Aku tersenyum sambil terpejam menengadah ke langit. Menikmati butiran-butiran kecil yang semakin lama semakin membesar dan terasa sakit di kulit wajahku.
Mungkinkah ini akhir dari ceritaku? Cerita kelam akan kematiannya yang sampai sekarang, tepatnya beberapa menit yang lalu, belum bisa aku merelakannya?Aku yakin, dia akan tenang dan bahagia melihatku masih menjadi Clara yang dulu. Hujan... bawa semua kenangan masa laluku. Bawa jauh-jauh dan jangan dekatkan kepadaku lagi kisah itu. Bawa jauhlah, hingga dia bersemayam di tempat asalnya.
“Tak baik hujan-hujan di saat musim kemarau.” Sebuah suara memutuskan curhatanku kepada hujan. Aku membuka mata dan melihat sosok laki-laki yang sering sekali aku lihat, berdiri di depanku. Tangan kirinya menenteng tas kerja hitamnya, dan tangan kanannya membawa payung yang kini dipayungkan ke tubuhku. Sambil mengusap sisa air hujan yang ternyata sudah membasahi tubuhku. “Tak baik hujan-hujan di saat musim kemarau.” Dia mengulang lagi kalimatnya. Barangkali dia berfikiran aku tak mengindahkan kalimatnya tadi.
Aku tersenyum dan mengangguk. Buru-buru aku berlari ke arah parkiran, tepatnya di tempat dimana aku biasa memarkirkan mobilku. Tapi, Shit! Aku lupa. Mobilku sedang aku bengkelkan. Oh my God...
“Kalau mau bisa pulang bareng saya. Hari sudah semakin sore. Bentar lagi sudah masuk waktu sholat maghrib.”
Kali ini aku benar-benar malu. Dan rasa ini seakan lama sekali tidak aku rasakan lagi setelah setahun yang lalu.
Hujan. Kenangan yang hanyut bersama hujan. Dan bertemu teman baru saat hujan pertama di musim kemarau.
++++++++++++
Aroma hujan, aroma tanah. Aroma khas ini masih tercium hingga tengah malam. Aku menyibak gorden kamarku dan melihat keramaian jalan yang sudah mulai lengang. Genangan air dimana-mana. Akankah kenanganku terpaut di sana ataukah sudah menyatu dengan aliran sungai? Entahlah. Semoga aku tidak mengingatnya lagi.
Kulihat tumpukan berkas bermap warna-warni masih belum terjamah oleh tanganku. Sesampainya di rumah tadi, aku langsung mandi, makan, dan tidur. Baru terbangun seterlah alarm yang kusetel pukul 00:00 WIB melengking memanggilku. Kulihat jam di dinding sudah lebih sepuluh menit. Kuambil satu map bersampul kuning. Kubuka dan kubaca sekilas. Proyek kerjasama pembukaan kantor cabang baru di Semarang. Ah, aku masih belum ada mood untuk mempelajarinya. Kualihkan perhatianku kepada hapeku. Siapa tahu ada pesan masuk. 2 pesan diterima.
From: Davina
Jangan lupa besok ada meeting jam 9. Dateng on-time jangan telat, dan jangan lupa kompres mata sebelum tidur. J
Aku tertawa kecil membacanya. Dia pikir aku menangis. Sms kedua...
From: Bagas
Aku lupa menanyakan, bagaimana menu makan siang tadi? Semoga saja enak dan kamu suka. Have nice dream... see you tomorrow. JJJ
Davina memberiku satu senyuman, Bagas memberiku tiga senyuman, dan bulan di atas sana memberiku beribu-ribu senyuman.
Kuhempaskan tubuhku di kursi. Kubuka laji mejaku, kukeluarkan kotak kecil yang sudah setahun ini kusimpan hati-hati. Dua buah cincin pertunangan yang belum sempat Andi dan aku sematkan di jari masing-masing. Kecelakaan mobil yang merengut nyawa Andi, membuatku sedih hingga berlarut-larut dan menutup hatiku untuk laki-laki lain.
Kututup laciku dan kubuka kotak penyimpanan barang-barang kenanganku dan Andi. Kumasukkan dua cincin itu kedalamnya. Bersatu dengan kenangan-kenangan yang lain. Bersatu bersama.
Kenangan tak bisa dilupakan tapi juga tak selamanya harus diingat. Masa depan menanti di depanku...

Yogyakarta, 25 Juni 2012.
#Wisma Bali