Rabu, 19 September 2012

Perempuan Bicara Soal Perempuan

        Berbicara mengenai perempuan tak akan ada habisnya. Karena begitu banyak dan kompleknya masalah dan hal-ihwal yang berhubungan dengan perempuan. Apalagi kalau membahas masalah hukum, perlu pemikiran yang mendalam dan tidak hanya dipandang atau diambil dari satu sisi saja. Adanya perbandingan dan penyeleksian akan informasi-informasi yang beredar sekarang ini (diantaranya yang paling krusial adalah masalah emansipasi, yang sampai saat ini masih saja bergulir), perlu diperhatikan lebih seksama agar tidak terjadi multi tafsir dan multi pemahaman yang bisa memerosokkan perempuan sehingga melenceng dari batasnya.
Akan tetapi, peranan perempuan dalam pemikiran setiap perempuan yang tumpah ruah di muka bumi ini pastilah tidak sama. Pengaruh akan lingkungan dia tinggal, adat-kultur-budaya yang masih dijunjung tinggi, dan jenjang pendidikan yang ditempuh, menjadi bermacamnya pemahaman akan peranan perempuan yang berimbas pada tingkah laku atau kepribadian yang mencitrakan perempuan itu sendiri. Terlebih dalam konteks kehidupan ruang domestik publik yang begitu plural. Beberapa media mengekspos perempuan begitu seringnya dengan berbagai kepentingannya. Dari satu pengeksposan media dengan membawa satu brand tertentu saja, sudah memunculkan pendapat dan dampak yang berbada-beda. Ada yang berpandangan biasa saja (acuh), memprotes karena dirasa memarjinalkan perempuan, dan ada yang mendukung demi terciptanya pola kemajuan untuk perempuan.
Menurut Thamrin Amal Tamagola sendiri, Citra perempuan dalam media terbagi kedalam beberapa citra. Diantaranya 1) Citra Pilar, menyatakan bahwa perempuan kodratnya adalah pengurus Rumah Tangga sementara laki-laki pencari nafkah. dalam artian, perempuan bertugas memberi kasih sayang dan perhatian, serta memberikan pendidikan kepada anak. 2) Citra Peraduan, dimana perempuan adalah objek dari segala jenis pemuasan laki-laki, terutama pemuasan akan seksual. 3) Dan yang terakhir adalah Citra Pinggang. Dalam pencitraan ini, perempuan senantiasa diposisikan sebagai kitchen person yang tidak dapat dihindarkan.
Dan penjelasan akan citra-citra di atas sudah tak asing lagi ditelinga kita. Seolah itu semua adalah pandangan dasar yang setiap orang ketahui begitu mendengar nama “perempuan”. Sehingga, karena pembagian-pembagian citra inilah yang kadang dirasa oleh para perempuan membatasi setiap gerak-geriknya. Terbatasnya perempuan beraktifitas sekehendak hatinya, menjadikan perempuan merasa terkungkung dan tak bisa melaju lebih. Ingin berbuat yang sedikit dari tugas laki-laki, sudah mendapatkan predikat “perempuan yang melenceng dari kodratnya”. Kalau seperti ini, apa sih sebenarnya kodrat seorang perempuan itu?
Jika kita mengaku orang yang beragama, kodrat seorang perempuan sudahlah diatur di dalam undang-undang beragama. Karena kita (saya) bergama Islam, maka dalam al-Quran sudah tertera dan tertulis jelas bagaimana al-Quran memandang perempuan, dan bagaimana Allah menempatkan sosok perempuan di atas muka bumi ini. Di salah satu surat dalam al-Quran dijelaskan secara gamblang, kedudukan laki-laki setingkat lebih tinggi dari perempuan lantaran laki-laki adalah imam/pemimpin bagi perempuan. Tapi disini juga perlu digaris bawahi, pemimpin dalam hal apakah dan seperti apakah.
Dalam hal warisan, laki-laki mendapatkan 2 bagian perempuan (arrijaalu mistlul untsayain) karena laki-laki mempunyai tanggungan untuk menjadi seorang pemimpin/imam yang harus menanggung makmumnya (bisa keluarganya – anak dan istri –  atau saudaranya). Dan mengenai kepemimpinan Allah sudah memberikan kepercayaannya kepada laki-laki. Ini dimungkinkan karena secara fisik (dalam keadaan sehat), laki-laki jauh lebih kuat dibandingkan perempuan. Meskipun dalam hal intelektualitas terkadang perempuan juga bisa unggul. Kalau masalah kepemimpinan – bagi saya – tergantung dari apa dulu yang dipimpin. Kalau menyangkut masalah agama, laki-laki tetap lebih unggul (arrijalu qowwamuuna ‘alannisak), tapi kalau diluar agama, boleh-boleh saja perempuan itu memimpin jika memang sesuai dengan kemampuannya.
Dalam lingkup rumah tangga misalnya, meski kewajiban mencari nafkah adalah diperuntukkan bagi kaum Adam, bukan berarti perempuan harus berpangku tangan menerima dan sesukanya membelanjakannya. Dalam hal nafkah ini, perempuan mempunyai tanggungan untuk menjaganya dan mengaturnya sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam pekerjaan, entah itu pekerjaan di dalam rumah (memasak, mencuci, bersih-bersih rumah, dll) maupun di luar rumah, bukanlah masalah sex (jenis kelamin) lagi. Untuk hal-hal seperti itu, laki-laki dan perempuan boleh ambil andil. Intinya, hanya di komunikasinya. Perempuan ingin bekerja membantu suami untuk mencari nafkah, apa salahnya? Kalau suami mengizinkan dan itu diniati kebaikan, ya apa salahnya? Itu nggak salah. Toh itu akan dipakai untuk kebutuhan semua dalam satu rumah (meskipun dalam setengah harta suami terdapat hak istri, sedangkan dalam harta istri tidak ada hak untuk suami).
Perihal sebagian ayat-ayat al-Quran yang dinyana memarjinalkan perempuan, dan terkadang dijadikan dalil untuk memojokkan perempuan, bisa dilihat terlebih dahulu asbabun nuzul-nya bagaimana. Difahami dulu bagaimana dan seperti apa keadaan masyarakatnya semasa ayat tersebut diturunkan. Apakah sesuai dengan konteks sekarang ini, ataukah ada perbedaan yang signifikan? Jika ada perbedaan, tak bisa sembarangan ayat tersebut dijadikan hujjah.